Aryo Subarkah Eddyono
Aryo Subarkah Eddyono profesional

Jalan, makan, lalu kenyang. Berupaya menyelesaikan sekolah tepat waktu.

Selanjutnya

Tutup

Video Artikel Utama

[Video] Perburuan Jengkol di Pasar Induk Kramat Jati

15 September 2018   08:54 Diperbarui: 15 September 2018   11:44 2501 2 1

Aktivitas jual-beli jengkol di Pasar Induk Kramat jati, Jakarta Timur beberapa waktu lalu. (Dok. Aryo)
Aktivitas jual-beli jengkol di Pasar Induk Kramat jati, Jakarta Timur beberapa waktu lalu. (Dok. Aryo)
Jengkol itu unik. Dirindu karena enak rasanya, dibenci karena baunya. Ini cerita perburuan jengkol di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur beberapa waktu lalu di ujung musimnya. Harga merangkak naik karena pasokan mulai berkurang.

Saya pesan ojek online ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Bagi saya, lebih efektif naik ojek daripada naik mobil. Bebas macet dan tak repot parkir. Saya berangkat selepas makan siang. Jalan dari Kalibata menuju Kramat Jati relatif lancar. 

Sebelum belanja, pastikan bawa uang kontan yang cukup, ya. Pedagang di sana tak memberikan fasilitas pembayaran uang elektronik. Tapi kalau uang kontannya kurang, mana tahu belanjanya banyak, jangan khawatir. Ada banyak bank berkantor di sana, ATM-nya bejibun.

Sebaiknya tidak berpakaian mentereng. Bahaya! Khawatir diincar orang jahat, dikira bawa banyak uang. Berpakaian sepantas dan senyamannya saja.  Saya saja berkaus oblong dan bercelana pendek, juga pakai sandal jepit.

Pasar Induk Kramat Jati buka 24 jam. Pasar ini adalah salah satu pusat jual-beli buah-buahan dan sayur-mayur terbesar di Indonesia. Berbagai bahan makanan masuk dan keluar tanpa henti. Para pengecer banyak mengambil barang dari tempat ini karena lebih murah. Nantinya, oleh mereka, bahan makanan itu akan dijual lebih mahal di eceran.

Setibanya di Pasar Induk Kramat Jati, saya langsung menuju los sayuran. Benar saja, kalau musim jengkol mau habis maka pedagang yang menjualnya pun berkurang. Saya harus tanya sana-sini menemukannya.

Beruntung, ada los yang baru mendapat pasokan jengkol. Jengkol itu baru saja diturunkan dari truk yang mengangkutnya. Jengkol datang dari Lampung. Lampung lagi musim jengkol, sementara yang dari Kalimantan sudah habis.

"Dua puluh lima ribu sekilo," kata si penjual. Karena baru turun dari truk, jengkolnya belum dipilah-pilah. Si penjual kasih harga rata saja. Saya ambil dua kilo jengkol.

Kalau lagi langka, harga jengkol mampu menandingi harga daging sapi.

Kata si penjual jengkol itu lagi, jengkol asal Lampung lebih enak dari pada jengkol Kalimantan. Kecil-kecil tapi baunya mantap, beda dengan jengkol Kalimantan yang lebih besar ukurannya. Jengkol Lampung pun lebih awet.

Pesona jengkol, bau tapi enak. Jika langka, harganya bisa selangit menandingi harga daging sapi. (Dok. Aryo)
Pesona jengkol, bau tapi enak. Jika langka, harganya bisa selangit menandingi harga daging sapi. (Dok. Aryo)
Pencarian Berlanjut

Saya berlanjut ke pedagang lainnya. Setidaknya sudah empat pedagang jengkol saya temui. Selisih harga dari satu pedagang ke pedagang lainnya agak tipis. Paling beda dua sampai lima ribu sekilo. Tergantung penawaran dan besar-kecilnya ukuran jengkol. Dari harga itu, di tingkat pengecer akan naik lagi sebesar kurang lebih lima ribu rupiah perkilonya.

Terakhir, saya menargetkan diri mendapatkan jengkol yang besar dengan harga yang murah. Saya merapat ke los yang dimiliki Bang Adam. "Tiga puluh ribu sekilo. Besar-besar ini," ujar Bang Adam, tak bisa ditawar lagi. Saya ambil dua kilo saja.

Total empat kilo jengkol saya bawa pulang. Rasanya puas belanja di Pasar Induk Kramat Jati ini. Apalagi mencari jengkol kesukaan saya. Sejam lebih pencarian saya, selama  itu pula saya banyak mendapatkan ilmu soal jengkol dan belajar kehidupan dari banyak pedagang.

Di benak saya beragam makanan olahan jengkol mengantre satu-persatu untuk dimasak. Ada rendang jengkol, gulai jengkol, jengkol balado, dan banyak lagi. 

Selamat makan jengkol, kawan!