Video Pilihan

Menyirih, Menghibur Hati, dan Menanti Pembeli

8 Januari 2019   09:44 Diperbarui: 9 Januari 2019   22:15 384 3 1

Mak Ucok,kami biasa menyapanya.Beliau asli Sumatra Utara,sekarang tinggal di Komplek Kemiling  Permai- Kota Bengkulu. Nama aslinya, tidak begitu dikenal. Kebiasaan kita disini,memanggil orang tua sebagai emak atau bapak dari si bla bla. Karena anaknya dipanggil Ucok,sejak kenal kamipun memanggilnya Mak Ucok.

Mak ucok ini, sahabat almarhum ibu saya. Setiap ke Bengkulu, diriku menyempatkan untuk mengunjungi beliau.Beberapa tahun sebelum meninggal,ibu saya dan Mak Ucok pergi umroh bareng.Suka dan duka,mereka bagi bersama. Cerita perjalanan ke tanah suci,tak habis-habis diulang.

Mak dan Pak Ucok (almarhum) dulu, menjual kopi di pasar Minggu - Bengkulu. Karena sering membeli kopi, ibu dan mak Ucok akhirnya jadi sahabat. Sejak pak Ucok mulai sakit-sakitan, mereka tidak lagi buka lapak. Setelah pak Ucok meninggal, sekarang Mak Ucok  istirahat saja di rumah.

Meski rumah anaknya cuma berkalang tembok saja, ia lebih suka tinggal di rumah sendiri.Merasa bebas dan tenang katanya. Sambil mengunyah sirih, diriku mendengarkan ia cerita tentang masa lalu.Setelah beberapa kali hujan air mata, diriku segera mengalihkan topik pembicaraan. 

Gak enak, kalau dilihat anak cucunya,nanti diriku dikira menganiaya orang tua. Cerita yang ringan-ringan saja, misalnya kenapa ia menyirih.

Ia menyirih sejak giginya, mulai banyak yang tanggal. Menyirih katanya, mengurangi rasa ngilu gigi dan lecet gusi. Sirih,kapur dan gambir menimbulkan reaksi kimia yang mungkin membuat gusi terasa menebal.

Diriku mengabadikan obrolan soal menyirih,dengan mak Ucok. Kami bercakap, dalam bahasa Palembang. Rasanya tidak perlu diterjemahkan,karena bahasa Palembang mudah dimengerti. Gak beda-beda amat, dengan bahasa Indonesia. 

Saat diriku pamit, mak Ucok berharap kami nanti bisa bertemu lagi. Ngobrol denganku membuatnya merasa sehat,katanya. Terharu saya.

Gambar penjual sirih, diambil belakangan. Lokasi lapak di tangga  bagian utara gedung  Pasar 16 - Palembang. Melihat bapak melamun sendiri,mantap kosong pada orang lalu lalang.

Meski tidak menyirih, sekadar buat penglaris diriku membeli juga segepok sirih seharga Rp.10.000. Semoga bapak penjual sirih, banyak rezeki amin***donasaurus