Pada dasarnya full time blogger, kadang jadi editor naskah, suka buku, serta hobi blusukan ke tempat heritage dan unik.
Tahun ini setelah Lebaran usai saya merasa lebih kontemplatif daripada yang sudah-sudah. Terlebih dalam hal kehidupan berkeluarga, terkhusus dinamika interaksi dalam kehidupan sebuah keluarga besar.
Tumben. Saya sendiri pun heran. Kok saya bisa sekontemplatif itu untuk urusan kehidupan keluarga? Usut punya usut akhirnya saya sadari alasannya. Yang ternyata begini. Pada Lebaran tahun ini saya betul-betul sendirian. Jauh dari keluarga besar karena tidak mudik. Sedang jauh pula dari anak semata wayang yang notabene satu-satunya keluarga inti saya.
Biasanya tatkala ada anak di samping saya, dunia sudah terasa gaduh meskipun semua tetangga dan teman sibuk dengan keluarga masing-masing. Entahlah. Sebetulnya yang gaduh saya atau anak saya. Yang jelas biasanya saya yang banyak berbicara, sedangkan dia iya-iya saja.
Begitulah adanya. Pada Lebaran-Lebaran sebelumnya saya cenderung tidak melakukan kontemplasi yang mendalam. Bagaimana bisa kontemplasi kalau sejak usai Shalat Idulfitri sibuk ke sana kemari serta melakukan ini dan itu? Oleh sebab itu, kiranya Lebaran tahun 2026 merupakan kado dari Allah Swt kepada saya ... supaya saya berpikir dan merenungkan tentang keluarga. Ehem.

Memang sungguh rapi dan indah rencana-Nya Swt. Justru saya berpikir dan merenung itu di tengah keramaian. Tatkala melihat para wisatawan berseliweran di Teras Malioboro 1 (Teras Malioboro Beskalan). Terkhusus rombongan wisatawan yang terdiri atas keluarga-keluarga.
Faktanya, melihat mereka saya jadi tersadarkan betapa penting arti keluarga bagi seseorang. Betapa keluarga adalah tempat pulang manakala kita lelah jiwa dan raga. Tersadarkan juga betapa seru kalau berkumpul dengan sepupu-sepupu. Yaelah. Sudah seberapa lama saya tidak berkumpul dengan sepupu-sepupu saya? Rasanya sudah seabad?
Untunglah saya tersadarnya di tengah keramaian. Alhasil, saya tidak baper merasa sendiri di dunia seperti judul novel zadoel hehehe ...
Saya cuma bisa tertawa geli dan berkata pada kawan main yang asyik memvideokan suasana di sekitar kami, "Eh, Mbak. Kenapa kita di sini? Kenapa nggak berlibur sama keluarga kayak mereka hehe ..."
Kawan main saya menjawab sambil tertawa, "Nah, itu. Rasanya cuma kita warlok yang ikutan ke sini saat liburan."
"Tapi mendingan kamu lho daripada aku. Dari sini kalau pulang ke rumah, kamu ketemu orang tuamu. Kalau aku pulang 'kan tidak ketemu siapa-siapa. Jadi, kenapa kamu ikutan aku di sini? Nggak akur sama keluarga, ya? Haha!"