Menulis untuk memahami dunia dan diri sendiri. Dari buku, film, dan perjalanan — mencari jejak yang pantas dikenang.

Menonton Film Boikot rasanya seperti memasuki dua dunia sekaligus - dunia kecil yang penuh aturan dan disiplin di sebuah pondok pesantren, dan dunia besar yang penuh ketidakpastian dan ancaman nyata, yaitu Gaza, Palestina.
Film pendek berdurasi kurang dari delapan menit ini, yang diproduksi oleh Lensa Fadllul Wahid Production (Capture The Moment Of Santri Salaf), berhasil mengemas kedua tema tersebut dengan apik, tanpa terasa dipaksakan.
Justru, perbandingan yang dibuat menimbulkan kesadaran mendalam bagi penonton tentang kenyamanan yang sering kita anggap biasa dan kesulitan yang dialami saudara-saudara kita di luar sana.
Film dibuka dengan adegan di pondok pesantren. Kita dibawa ke suasana pagi hari di mana santri-santri tengah melakukan aktivitas sehari-hari. Dialog menggunakan bahasa Jawa, sederhana tapi hidup, membuat kita merasa benar-benar ada di sana.
Dari sini, penonton langsung diperkenalkan dengan salah satu konflik kecil yang menjadi inti cerita: siapa yang membawa minuman dan bagaimana prosedur izin untuk membawa barang ke pondok.
Baca juga: Gagal Terus? Mungkin Bukan Usahanya, Tapi, Hati Kita yang Sudah Jauh
Tampak jelas ketegangan ringan muncul karena aturan ketat pondok - CCTV memantau setiap kegiatan, izin harus lengkap, dan disiplin adalah harga mati.

Yang menarik, meski sepele, adegan ini menghadirkan nuansa humanis. Santri yang kelelahan atau kurang sehat diperhatikan, pengurus pondok berusaha menegakkan aturan tanpa mengabaikan sisi kemanusiaan.
Di sinilah film menunjukkan bahwa disiplin dan kasih sayang bisa berjalan beriringan. Tidak hanya sebagai aturan formal, tapi juga sebagai pendidikan karakter bagi para santri - bagaimana mereka belajar tanggung jawab, komunikasi, dan empati.
Namun, film tidak berhenti di dunia pondok yang nyaman. Seketika, penonton dibawa ke berita yang lebih besar: situasi di Gaza pada tanggal 1 Oktober 2025. Ultimatum evakuasi dari pemerintah Israel kepada warga Kota Gaza menjadi titik dramatis yang kontras dengan kenyamanan pondok.