Eko Adri Wahyudiono
Eko Adri Wahyudiono Guru

Mengajar dan mendidik semua anak bangsa. Hobi : Traveling, tenis, renang, gitar, bersepeda, nonton film, baca semua genre buku, menulis artikel dan novel.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Tradisi Meriam Tanah, LONG PENDEM di Desa Randugede, Plaosan Magetan

25 Maret 2024   06:07 Diperbarui: 25 Maret 2024   14:21 1598 14 5


Anak-anak saat menyalakan meriam tanah di desa Randugede, Magetan. Sumber gambar layartangkap  youtube. dokpri
Anak-anak saat menyalakan meriam tanah di desa Randugede, Magetan. Sumber gambar layartangkap  youtube. dokpri

Tradisi menyalakan meriam tanah yang ada di Desa Randugede, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur pada saat bulan ramadan ternyata sangat menarik bagi anak-anak muda desa di saat ngabuburit alias menunggu waktunya berbuka puasa.

Meriam yang diledakan teryata dibuat dengan cara menggali lobang di dalam tanah dengan lokasi yang jauh dari perumahan warga desa. Beberapa mengambil tempat di area bukit hutan bambu desa agar tidak mengganggu kenyamanan warga desa lainnya, khususnya orang tua dan bayi.

Proses pembuatannya dengan mencampurkan bahan baku karbit dengan dicampur air. Selama proses kimiawi, lobang sumbu ditutup dengan daun kering. Setelah beberapa menit, meriam siap diledakan dengan menyulut api yang dipasangkan pada sebatang ranting.

Suara yang menggelegar sampai sejauh 3 km sungguh bisa memberikan nuansa kegembiraan yang luar biasa bagi anak-anak yang ada di areal itu. Fenomena yang sangat menarik untuk dilihat.

Semenjak petasan dilarang pemerintah karena sangat membahayakan dan kemudian banyak yang beralih dengan meriam bumbung yang terbuat dari bambu, namun kali ini meriam Long Pendem menjadi primadona ngabuburit di Desa Randugede, Kecamatan Magetan.

Dari wawancara langsungg kepada para warga desa Randugede yang dilakukan oleh Frischa Aulia Rachma selaku kontributor lapangan dan sekaligus sebagai reporter yang melaporkan langsung dari lokasi Long Pendem, menyampaikan bahwa pada prinsipnya warga desa merasa tidak keberatan mengingat semua itu demi kegembiraan anak-anak di bulan ramadan ini.

Artikel untuk Kompasiana.com