Dari petani, kembali menjadi petani. Hampir separuh hidupnya, dihabiskan dalam kegiatan Community Development: bertani dan beternak, plus kegiatan peningkatan kapasitas hidup komunitas lainnya. Hidup bersama komunitas akar rumput itu sangat menyenangkan bagiku.
Sumber: YT Greg Nafanu, https://www.youtube.com/watch?v=STCgjUEEy9k
Yang liar jangan cepat dimatikan. Berilah kesempatan kepadanya untuk hidup.
Coba berikan sentuhan tambahan, dirawat seadanya. Dan tunggulah kejutannya. Mereka akan memberikan balasan di luar dugaan untuk kebaikan Anda.
Buktinya, pohon cabai ini. Tidak ditanam alias tumbuh sendiri. Ketika dibiarkan untuk tumbuh, cabai ini terlihat lebih subur dari cabai yang ditanam.
Cukup disiram dan jadilah, ia bisa memberikan hasil yang baik, produktif. Buahnya lebat dan sehat-sehat, gemoy. Sementara tanaman cabai yang ditanam dan dirawat sejak masih bibit malah terlihat letoy.
Cabai yang ditanam, mudah diserang hama dan penyakit. Daunnya terlihat menguning dan keriting.
Lalu buahnya pun tak sehat dan kecil-kecil. Ah, yang dirawat sejak kecil malah tidak sanggup membalas kebaikan perawatnya. Terima kasih cabai liarku.
Cabai liar tumbuh lebih subur dan produktif dibandingkan dengan cabai yang ditanam. Ada beberapa faktor alamiah yang memengaruhinya, di antaranya sebagai berikut:
1. Adaptasi alam
Cabai liar telah beradaptasi dengan lingkungan alamiahnya. Dengan demikian, memiliki daya tahan yang kuat terhadap cuaca ekstrem, hama, dan penyakit.
Kondisi ini membuatnya lebih mudah tumbuh subur dan produktif tanpa perlu banyak perawatan. Cukup diberi kesempatan untuk hidup, ia bisa tumbuh subuh hingga berbuah.