KAKEK yang hobi menulis hanya sekedar mengisi hari-hari pensiun bersama cucu sambil melawan pikun.

Ibu dalam nada rinduku yang tak akan pernah usai. Terus sepanjang masa akan menjadi kenangan. Pada usianya yang ke-80 tahun, ibuku wafat tahun 2015. Saat Ibu wafat aku tidak sedang berada di sisinya.
Momen itu seperti mengulang cerita lama ketika Ayahku wafat 20 tahun sebelumnya, aku juga tidak bisa menemaninya saat-saat terakhir Izrail menjemputnya.
Memahami Ibu selama hidupku bukan sesuatu yang sulit karena Ibu adalah setiap denyut jantungku dan setiap peredaran darahku yang menngalirkan ilmu-ilmunya.
Selama hidupku sosok Ibu adalah tempat menimba ilmu. Masa kecilku sebagai anak pertama, aku menjadi anak emas yang penuh dengan kasih sayang. Ibu membimbingku dengan penuh cinta yang tulus.
Masa-masa sekolah di tengah gejolak pertarungan politik pada tahun 60-an sampai puncaknya pecah pada 30 September 1965 adalah masa-masa transisi dimana aku beranjak remaja.
Beruntung Ibu saat itu selalu mengajarkan ilmu Agama dengan mewajibkan ikut ngaji di Surau sejak Magrib sampai Isya sehingga paham-paham atheis tidak pernah mampu menembus kalbu.
Dalam hidupku ada dua momen pesan Ibu yang Alhamdulillah aku bisa meluluskannya. Ketika dua permintaan Ibu itu berhasil aku tunaikan, saat ini ada rasa lega luar biasa.
Permintaan pertama Ibu yaitu ketika aku diminta pensiun dini di usia 55 tahun pada 2011, padahal masa kerjaku sebagai peneliti masih bisa pensiun di usia 60 tahun, artinya masa kerjaku masih tersisa 5 tahun lagi.
Dengan kesadaran penuh akupun mengundurkan diri dari tempat kerjaku dengan menuliskan alasan atas permintaan Ibu yang ingin ditemani pada masa tuanya.
Momen kedua adalah ketika Ibu sedang sakit tepat saat jadwal kami berangkat ibadah haji ke Tanah Suci. Saat itu aku ingin menunda ibadah haji agar bisa menemani Ibu yang tengah sakit.