Isson Khairul
Isson Khairul Jurnalis

Kanal #Reportase #Feature #Opini saya: http://www.kompasiana.com/issonkhairul dan https://wm.ucweb.com/dashboard/article Kanal #Fiksi #Puisi #Cerpen saya: http://www.kompasiana.com/issonkhairul-fiction Profil Profesional saya: https://id.linkedin.com/pub/isson-khairul/6b/288/3b1 Social Media saya: https://www.facebook.com/issonkhairul dan https://plus.google.com/+issonkhairul/posts serta https://twitter.com/issonisson Silakan kontak saya di: dailyquest.data@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

[Video] Hati Istri Vs Ambisi Suami | Part of Panembahan Reso WS Rendra

27 Februari 2020   09:13 Diperbarui: 27 Februari 2020   09:19 44 0 0

Konflik suami-istri bisa jadi cermin konflik dunia. Ambisi yang tidak terkendali, bisa membuat bahagia menjadi malapetaka. Foto: isson khairul
Konflik suami-istri bisa jadi cermin konflik dunia. Ambisi yang tidak terkendali, bisa membuat bahagia menjadi malapetaka. Foto: isson khairul

Suami terbaik, belum tentu paham isi hati sang istri. Sebaliknya, istri terbaik, juga belum tentu paham ambisi-ambisi sang suami. Ini mengingatkan saya pada tokoh Reso dan Nyai Reso dalam lakon teater #PanembahanReso. Kita tahu, lakon teater tersebut adalah salah satu lakon teater yang legendaris, karena ditulis oleh tokoh teater yang mumpuni, #WSRendra. Inti dari Panembahan Reso adalah perebutan tahta kekuasaan, yang penuh intrik, juga penuh dengan pertumpahan darah.

Saya sengaja mengambil part ini, konflik suami-istri antara Reso dan Nyai Reso, sebagai titik internal terdalam di lakon teater Panembahan Reso. Kita tahu, Reso adalah orang biasa, yang dengan piawai mengelola intrik, sampai akhirnya masuk menjadi ring satu kekuasaan Raja. Sebagai orang yang tidak berdarah biru, sebagai orang yang bukan dari kalangan bangsawan, hal tersebut tentulah sebuah lompatan yang luar biasa.

Lebih luar biasa lagi, karena Reso berambisi menjadi Raja. Ingat, ia tidak berdarah biru. Ia juga bukan bangsawan. Tapi, ia berambisi menjadi Raja. Gelar Panembahan Reso yang sudah disandangnya, nampaknya belum cukup baginya. Ambisinya masih meledak-ledak. Situasi di lingkar dalam kerajaan yang carut-marut, membuatnya kian leluasa mengelola intrik. Ia menciptakan konflik antara orang per orang, antara kelompok dengan kelompok.

Dan ... ini yang luar biasa berikutnya: Reso menjalin asmara dengan permaisuri, yang jelas-jelas adalah istri Sang Raja. Di situlah kekuatan hati Nyai Reso, selaku istri. Ia jauh-jauh hari sudah mendeteksi, bahwa cepat atau lambat, ia akan kehilangan suami yang sangat ia cintai: Reso. Ia menentang ambisi suaminya untuk menjadi Raja. Ia sadar, semakin cepat ambisi tersebut terwujud, maka semakin cepat pula sang suami lepas dari pelukannya.

Hmmm ... cinta dan asmara memang bagai dua sisi mata uang dengan kekuasaan. Percakapan sekaligus pertengkaran di lingkar dalam rumah tangga Reso dan Nyai Reso, menjadi cermin dari carut-marut yang berlangsung sengit di lingkar dalam Kerajaan. Atas dasar itulah, saya merasa, Panembahan Reso akan menjadi lakon teater yang relevan dari zaman ke zaman. Ambisi manusia serta bengisnya manusia, dikuakkan dengan gamblang oleh WS Rendra.

Lakon Panembahan Reso pernah dipentaskan WS Rendra bersama Bengkel Teater pada 26-27 Agustus 1986. Dipentaskan di Istora Senayan, Jakarta Pusat, selama 7 (tujuh) jam. Sekitar 15.000 penonton menghadiri  dua hari pementasan teater tersebut. Kita tahu, WS Rendra meninggal di Depok, Jawa Barat, pada Kamis (06/08/2009). Baru 34 tahun kemudian, tepatnya pada Sabtu (25/01/2020), Panembahan Reso dipentaskan kembali di #TeaterCiputraArtpreneur, Lotte Shopping Avenue, Jakarta Selatan.

Pentas tersebut disutradarai Hanindawan. Sosok Reso yang menjadi pemeran utama Panembahan Reso adalah Whani Darmawan, aktor panggung dari Yogyakarta. Yang berperan sebagai tokoh Nyai Reso adalah Ruth Marini, bintang layar lebar yang sangat antusias memerankan Nyai Reso. Video ini adalah Panembahan Reso yang disutradarai Hanindawan. Di video ini, kita bukan hanya menyaksikan beragam intrik, tapi juga kekuatan akting Whani Darmawan dan Ruth Marini.