Isson Khairul
Isson Khairul Jurnalis

Kanal #Reportase #Feature #Opini saya: http://www.kompasiana.com/issonkhairul dan https://wm.ucweb.com/dashboard/article Kanal #Fiksi #Puisi #Cerpen saya: http://www.kompasiana.com/issonkhairul-fiction Profil Profesional saya: https://id.linkedin.com/pub/isson-khairul/6b/288/3b1 Social Media saya: https://www.facebook.com/issonkhairul dan https://plus.google.com/+issonkhairul/posts serta https://twitter.com/issonisson Silakan kontak saya di: dailyquest.data@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Ziarah Makam Tidak Dilarang

20 Mei 2020   01:19 Diperbarui: 20 Mei 2020   01:30 29 2 0


Ziarah ke makam orangtua di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, di pekan terakhir ramadhan. Ternyata dibolehkan. Tidak dilarang. Foto: isson khairul
Ziarah ke makam orangtua di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, di pekan terakhir ramadhan. Ternyata dibolehkan. Tidak dilarang. Foto: isson khairul
Virus Corona tidak hanya memupus rindu pada kampung halaman. Tapi, juga membuat kesedihan ini kian mendalam. Itulah yang saya rasakan ketika Senin (18/05/2020) lalu, saya menziarahi makam orangtua di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan. Sore merangkak perlahan di jalanan yang lengang.

Ini sungguh tak biasa. Jika tak ada Virus Corona, Jalan Raya Kalibata sepanjang makam ini, tentulah penuh sesak. Kendaraan yang parkir sampai memenuhi sebagian badan jalan. Para peziarah datang silih berganti, dari berbagai pelosok tanah air. Bahkan ada yang datang dari berbagai negara. Apalagi ini sudah masuk pekan terakhir ramadhan.

Namun, di sore Senin (18/05/2020) itu, saya sendiri. Benar-benar sendiri. Tak ada peziarah yang lain. Biasanya, untuk mengisi Buku Tamu di pos penjagaan, saya antre lebih dari 15 menit. Saking ramainya peziarah. Tapi, sore itu, saya melenggang tanpa halangan ke pos penjagaan. Tanpa antre dan tanpa menunggu langsung mengisi Buku Tamu.

Saya benar-benar melenggang. Pelataran parkir TMP Kalibata kosong melompong. Hanya ada beberapa kendaraan petugas, yang parkir di sana. Para penjual kembang, tak ada sama sekali. Benar-benar tak ada. Biasanya, saya membeli kembang secukupnya, untuk ditaburkan di pusara orangtua. Untuk mengiringi doa di sela isak tangis.

Tanpa kembang di tangan, saya menyusuri jalan ke area pemakaman. Alhamdulillah, di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ini, tak ada larangan untuk melakukan ziarah makam. Meski tak ada kerumunan, saya tetap pakai masker. Melintasi nama-nama pahlawan yang dimakamkan di sana, terbayang masa-masa indah bersama orangtua.

Ia tentu menanti kedatangan saya. Karena, sejak ia dikebumikan di sini, saya selalu dan selalu datang, terutama di awal dan akhir ramadhan. Biasanya, anggota keluarga yang lain, juga datang. Biasanya kami janjian untuk sama-sama berziarah. Namun kini, Virus Corona telah merubah segalanya. Ruang gerak terbatas. Akses kendaraan juga terbatas.

Saya membungkuk di pusara orangtua sambil terisak. Mencabuti rumput satu per satu, sebagaimana ia dulu membenahi rambut-rambut halus di kening saya. Ia yang kini terbujur di bawah nisan, tentu bisa merasakan kehadiran saya. Dengan penuh doa, saya tempelkan kepala saya di nisannya, sebagai penanda hadir untuknya.

Tatkala saya bangkit, ternyata sudah ada ember berisi air dekat saya. Rupanya petugas makam sudah mengantarkannya, tanpa saya sadari. Perlahan, saya basahi pusara, dengan penuh doa. Di kejauhan saya lihat petugas makam duduk sendiri. Ia memandangi saya dari kejauhan, karena sore itu memang tak ada yang berziarah, selain saya.

Alangkah lengang. Alangkah sepi. Saya sadar, pada akhirnya kita akan kembali sendiri. Sendiri dalam sepi. Hanya doa yang menguatkan, karena saya percaya Yang Kuasa senantiasa melindungi. Perlahan, terngiang sajak Kerawang Bekasi dari Chairil Anwar:

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan