Isson Khairul
Isson Khairul Jurnalis

Kanal #Reportase #Feature #Opini saya: http://www.kompasiana.com/issonkhairul dan https://wm.ucweb.com/dashboard/article Kanal #Fiksi #Puisi #Cerpen saya: http://www.kompasiana.com/issonkhairul-fiction Profil Profesional saya: https://id.linkedin.com/pub/isson-khairul/6b/288/3b1 Social Media saya: https://www.facebook.com/issonkhairul dan https://plus.google.com/+issonkhairul/posts serta https://twitter.com/issonisson Silakan kontak saya di: dailyquest.data@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Kenangan Mudik Jakarta - Wonogiri

21 Mei 2020   01:11 Diperbarui: 21 Mei 2020   04:42 24 0 0


Mari mengenang asyiknya mudik. Ini mudik kenangan saya dari Jakarta ke Wonogiri. Mudik gratis bersama Kementerian Perhubungan. Asyik dan seru, tentunya. Foto: isson khairul
Mari mengenang asyiknya mudik. Ini mudik kenangan saya dari Jakarta ke Wonogiri. Mudik gratis bersama Kementerian Perhubungan. Asyik dan seru, tentunya. Foto: isson khairul
Mudik itu asyik. Kenangan indahnya selalu berulang tiap tahun. Tahun 2020 ini, saya tidak mudik, karena ada larangan mudik dari pemerintah. Sebab, Virus Corona sedang melanda negeri ini, juga berbagai belahan dunia lainnya. Sebagai obat kangen, saya mengenang perjalanan mudik saya dari Jakarta ke Wonogiri, Jawa Tengah. Ini adalah bagian dari tugas saya dari Kompasiana, meliput rangkaian asyiknya mudik.

Biar lebih seru, saya bergabung menjadi peserta Mudik Gratis yang diadakan oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tahun 2017. Pada tahun itu, Kemenhub menyediakan 1.000 bus gratis, dari berbagai kota di tanah air. Motor para pemudik diangkut dengan truk ke kota tujuan, sementara pemudik naik bus. Ini bagian dari upaya Kemenhub untuk menekan angka kecelakaan yang kerap menimpa pemudik bermotor.

Perjalanan saya dimulai pukul 11.00 WIB, hari Kamis (22/06/2017) dari Pantai Karnaval Ancol, Jakarta Utara. Mohon maaf, di teks video tertulis Kamis (22/07/2017). Saya memilih rute Jakarta-Wonogiri, dari sekian banyak rute yang ditawarkan Kemenhub. Dengan demikian, saya bisa sekalian meliput situasi mudik di berbagai kota terdekat.

Hari itu, ada 231 bus yang memenuhi area Pantai Karnaval. Dari pantauan saya, bus yang digunakan untuk mudik gratis ini adalah bus pariwisata. Bukan bus umum yang melayani rute regular. Bus itu mewah, dengan seat 2-2, dan full pendingin tentunya. Lengkap pula dengan televisi, sebagai hiburan selama perjalanan.

Total pemudik dalam bus yang saya tumpangi 50 orang, 15 orang di antaranya anak-anak. Tak ada ingar-bingar tangis anak sepanjang perjalanan. Ini indikator bahwa perjalanan mudik itu menyenangkan. Buktinya, anak-anak tidak rewel. Mereka bermain, bercanda, lantas tertidur pulas. Saya dan beberapa pemudik tetap berpuasa. Sebagian sudah tancap lahap, hingga aroma mie instant yang mereka lahap, benar-benar menjadi godaan yang mengasyikkan.

Jalan tol benar-benar lancar jaya. Tak ada kemacetan yang berarti. Pemudik yang duduk di sebelah saya bergumam, "Kurang sensasi nih mudiknya. Gak ada macet-macetnya." Padahal, sehari sebelumnya, pada Rabu (21/06/2017), saya membaca di sejumlah media, ada antrean panjang di pintu gerbang tol Palimanan, mencapai 14 kilometer. Mobil berjalan perlahan karena padatnya kendaraan. Antrean kendaraan itu mulai terjadi sejak KM 174.

Namun, ketika bus yang saya tumpangi melewati gerbang tol Palimanan pada Kamis (22/06/2017) sore, lancar-lancar saja. Barangkali petugas di lapangan sudah mengambil langkah preventif. Menjelang pintu gerbang tol Brebes Timur, waktu berbuka tiba. Saya membuka snack box yang tadi dibagikan kondektur saat keberangkatan di Pantai Karnaval Ancol. Ada dua potong roti dan dua gelas air mineral.

Hmmm, bagi saya, ini lebih dari cukup untuk berbuka puasa. Bus pun bergerak melalui jalan non-tol. Memasuki wilayah Pekalongan dan Batang, baru deh terasa sensasinya. Jalanan padat dan asli macet. Hujan pula. Saya balik bergumam ke pemudik yang duduk di sebelah saya, "Akhirnya dapat juga ya sensasinya."

Menghadapi hujan dan macet yang berkepanjangan, ternyata dua potong roti berbuka tadi tidak lagi memadai. Cacing-cacing di perut mulai berontak. Keinginan untuk pipis pun timbul. Oalaaaah! Anak-anak mulai menyuarakan kerewelan mereka. Sensasi mudik pun terasa komplit.

Baru di Kendal, di salah satu pom bensin, bus memasuki masa istirahat. Pelataran basah oleh hujan. Kami berebut turun untuk memburu toilet. Jiaaaaaahhh, antreannya mantap banget. Apa boleh buat, tak ada pilihan lain. Habis itu, saya mencari sesuatu yang bisa dikunyah-kunyah. Kasihan tuh cacing-cacing, sudah kalang-kabut. Dengan gerak cepat, saya penuhi hasrat para cacing itu. Pemudik lain tampaknya juga demikian.

Akhirnya, menjelang Subuh, pemudik pun tiba di Terminal Wonogiri dengan selamat. Sepanjang Jakarta-Wonogiri, hanya dua kali istirahat. Normalkah itu? Saya tidak tahu, karena saya baru pertama kali ini ikut mudik gratis. Pelataran terminal basah, tapi hujan sudah berhenti. Para pemudik yang sudah mengirimkan sepeda motor, tinggal mengambil sepeda motor mereka di salah satu bagian terminal.

Kemudian, mereka lanjut ke rumah masing-masing. Asyik. Saya? Ya, terus meliput situasi mudik hehehe.