Saya memulai hidup ini dengan menulis puisi dan cerita pendek, kemudian jadi wartawan, jadi pengelola media massa, jadi creative writer untuk biro iklan, jadi konsultan media massa, dan jadi pengelola data center untuk riset berbasis media massa. Saya akan terus bekerja dan berkarya dengan sesungguh hati, sampai helaan nafas terakhir. Karena menurut saya, dengan bekerja, harga diri saya terjaga, saya bisa berbagi dengan orang lain, dan semua itu membuat hidup ini jadi terasa lebih berarti.
Mengelola momentum untuk meningkatkan performa. Itulah salah satu tantangan, yang dihadapi 16 klub peserta Liga Soeratin Jakarta U-15 Piala Gubernur 2026. Lalai mengelola momentum, bisa membuat performa klub anjlok secara signifikan.

Hasil seri 1-1 saat klub Tunas Indonesia melawan klub Rorotan United, sesungguhnya menjadi penanda penting untuk kedua klub tersebut. Bagi Tunas Indonesia, ini alaram waspada, untuk membenahi strategi pembinaan internal. Sebaliknya, bagi Rorotan United, ini sinyal penunjuk arah untuk naik level.
Kenapa alaram waspada? Pertama, karena Tunas Indonesia di pekan ke-1 dan pekan ke-2 menampilkan performa positif, bertahan 2 pekan berturut-turut di ranking ke-2 klasemen sementara Grup Barat Liga Soeratin Jakarta U-15 Piala Gubernur 2026.
Kedua, karena Tunas Indonesia turun ke ranking ke-3 di pekan ke-3, ke-4, dan ke-5. Selama 3 pekan berturut-turut tersebut, Tunas Indonesia seolah tidak punya energi untuk kembali ke performa awalnya.
Di pekan ke-3, pada Minggu, 12 Juli 2026, Tunas Indonesia kalah 1-2 oleh klub Bina Mutiara. Di pekan ke-4, pada Minggu, 26 Juli 2026, Tunas Indonesia menang 3-1 atas klub UMS 1905. Di pekan ke-5, pada Sabtu, 1 Agustus 2026, Tunas Indonesia kalah 0-4 oleh klub Bina Taruna.
Di laga ini, performa Tunas Indonesia merosot jauh, tanpa mampu membalas 1 gol pun. Padahal, ranking Bina Taruna berada di bawah Tunas Indonesia. Ketika melawan Bina Mutiara, yang rankingnya di atas, Tunas Indonesia malah mampu mencetak 1 gol, meski akhirnya kalah 1-2.
Sampai di sini, terlihat jelas, telah terjadi penurunan performa yang signifikan pada Tunas Indonesia. Dalam konteks pembinaan, keberhasilan berada di ranking ke-2, selama 2 pekan berturut-turut, sudah sepatutnya dijadikan momentum untuk menjaga serta meningkatkan performa.
Baik dalam hal intensitas latihan, maupun dalam pengembangan taktik strategi. Pengelolaan momentum tersebut, nampaknya luput dari perhatian official Tunas Indonesia. Kalaupun dilakukan, belum maksimal, karena hasilnya tidak tercermin dalam pertandingan berikutnya.
Penurunan performa Tunas Indonesia merosot makin ke bawah. Di pekan ke-6 ini, turun ke ranking ke-4. Jadi, dari ke-2 turun ke-3, terus turun ke-4. Di laga pada Minggu, 23 Agustus 2026, Tunas Indonesia hanya mampu bermain imbang 1-1, dengan Rorotan United. Padahal, secara ranking, Rorotan United selalu di bawah Tunas Indonesia, sejak pekan ke-1.
Tentu, dibutuhkan perjuangan pembinaan berkali-kali lipat bagi Tunas Indonesia, untuk bisa kembali ke ranking ke-2, seperti di pekan ke-1 dan ke-2. Ini adalah konsekuensi logis, karena kelalaian mengelola momentum. Mungkin juga, karena terlena.