Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

"Nah...kita sudah mulai dekat lokasi, terlihat gunung gamping. Jangan lupa pakai topi atau payung karena cuaca panas!" Bu Ida kembali memandu para mamah RT 11 yang sudah mendekati lokasi Monumen Reog.
Ternyata di tempat parkir sudah ada rombongan lain yang juga menggunakan kereta kelinci untuk berwisata.
Lokasi Monumen yang terletak di pedesaan membuat kereta kelinci menjadi primadona sebagai moda transportasi wisata. Kereta ini melewati jalan pedesaan, sehingga tidak khawatir mengganti lalu lintas padat di tengah kota.

Turun dari kereta saya sungguh terpesona. Cuaca panas tidak menyurutkan niat untuk mengeksplor dan merekam situasi di tempat wisata ini.
Berbeda dengan penampakan monumen reog dari kejauhan, ternyata di sini terlihat gunung gamping yang terlihat indah dan mempesona.
Monumen reog nya mungkin belum jadi, tapi saya justru lebih tertarik dengan keindahan gunung gamping yang menjulang seperti grand canyon.

Hamparan gunung gamping itu justru terlihat sangat indah dan memukau. Bentang alam yang terbentuk alami, ditambah monumen yang membawa simbol kemegahan peradaban tentunya menjadi kolaborasi yang unik dan menarik.
Di depan gunung gamping yang seperti lembah datar, sudah tertata rapi dalam bingkai paving. Kondisi kontras yang menciptakan harmoni tersendiri.

Di satu sisi, wisata ini mungkin menghancurkan kehidupan fauna, tapi justru menyelamatkan kelestarian gunung gamping karena tidak lagi diperbolehkan untuk ditambang atau dieksploitasi. Apalagi terlihat vegetasi yang mulai tumbuh memberikan sentuhan hijau di antara warna putih kekuningan batu gamping.
"Ibu-ibu, pembangunan monumen reog ini juga untuk menyelamatkan kelestarian gunung gamping agar tidak diambil untuk bahan bangunan!" Bu Ida mengedukasi dan memberi penjelasan kepada mamah-mamah RT 11, kenapa di sini dibangun monumen reog
Batu gamping atau batu kapur biasa dipergunakan untuk campuran adonan saat membuat tembok bangunan. Tak heran kalau batu gamping sangat diminati dan banyak dicari.

Batu gamping atau batu kapur (limestone) memang menjadi salah satu komoditas tambang yang paling masif dieksploitasi di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.
Tak heran gunung-gunung kapur sering kali dikeruk karena memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi untuk menopang berbagai industri modern.
Kandungan utama batu gamping kalsium karbonat dengan rumus kimia CaCO3.
Biasanya hadir dalam bentuk mineral kalsit atau aragonit. Kandungannya bisa mencapai lebih dari 95% pada batu gamping murni.
Batu gamping dieksploitasi secara besar-besaran karena merupakan bahan baku utama semen yang belum memiliki substitusi atau pengganti yang sepadan.
Batu gamping dibakar bersama tanah liat untuk menghasilkan klinker, yang merupakan komponen utama semen Portland untuk membangun infrastruktur.
Dalam industri baja dan peleburan logam, batu gamping digunakan sebagai "flux"(bahan pengikat kotoran). Batu kapur mengikat silika dan kotoran lain saat peleburan besi, lalu memisahkannya menjadi terak (slag).

Di sektor Pertanian, kapur dolomit Digunakan untuk menetralkan keasaman (pH) tanah yang terlalu asam, sekaligus menyediakan unsur hara Kalsium (Ca) dan Magnesium (Mg) bagi tanaman.
Batu kapur juga digunakan sebagai bahan baku industri kimia dan kertas, dalam pembuatan pemutih, pemurnian gula, penjernihan air, hingga sebagai bahan pengisi (filler) pada industri kertas, plastik, dan cat.

Area bekas tambang batu gamping biasanya kehilangan "topsoil"(lapisan tanah pucuk yang subur), memiliki pH yang sangat basa (alkalis), miskin unsur hara (terutama Nitrogen dan Fosfor), serta memiliki daya ikat air yang sangat buruk (sangat gersang)
Untuk mengembalikan vegetasi di kawasan bekas tambang kapur, diperlukan teknik reklamasi dan revegetasi yang terencana.
1. Penataan Lahan dan Terasiring (grading)
Dinding-dinding kapur yang terjal harus ditata ulang menjadi sistem berundak (terasing). Hal ini bertujuan untuk mengurangi laju erosi, menahan air hujan, dan menyediakan bidang datar yang stabil untuk media tanam
2. Pengadaan Lapisan Tanah Pucuk (Topsoiling)
Karena batuan kapur tidak memiliki nutrisi untuk tanaman, permukaan yang akan ditanami harus dilapisi kembali dengan *topsoil* (tanah subur yang sengaja disisihkan sebelum penambangan dimulai) atau mendatangkan tanah subur dari luar area.

3. Pemulihan Mikrobiologi Tanah & Pupuk Organik
Sebelum ditanami, struktur tanah diperbaiki dengan memberikan pupuk organik (kompos atau kotoran ternak) dalam jumlah besar.
Selain itu, penggunaan Mikoriza(jamur simbiosis akar) sangat disarankan karena membantu akar tanaman menyerap air dan hara di lingkungan marginal yang ekstrem.
4. Pemilihan Jenis Vegetasi yang Tepat (Pionir dan Endemik)
Tidak semua tanaman bisa hidup di tanah kapur. Strategi penanamannya dibagi menjadi beberapa tahap:
- Tanaman Penutup Tanah (Cover Crops*): Menggunakan tanaman legum (kacang-kacangan) seperti Centrosema atau Calopogonium untuk mengikat nitrogen bebas di udara, menjaga kelembapan, dan mencegah erosi.
-Pohon Pionir Toleran Kapur: Menanam pohon yang tahan kekeringan dan mampu hidup di tanah alkalis, contohnya:
-Kailes/Lamtoro Gung (Leucaena leucocephala) mengikat nitrogen.
-Sengon(Falcataria moluccana) bisa tumbuh cepat.
-Jati (Tectona grandis) secara alami beradaptasi baik di tanah kapur/karst. -Akar Wangi (Vetiver) untuk mencengkeram tebing kapur agar tidak longsor.

5. Penerapan Sistem Eco-Mining dan Karst Berkelanjutan
Langkah preventif terbaik adalah tidak menghabiskan seluruh bentang alam karst. Kawasan karst yang memiliki fungsi hidrologi kuat (sebagai penyimpan cadangan air bawah tanah) harus ditetapkan sebagai kawasan lindung yang sama sekali tidak boleh ditambang, sementara penambangan hanya dibatasi pada koridor produksi yang terkendali dengan kewajiban reklamasi simultan (menambang sambil menghijaukan area yang sudah selesai).
Di sini terdapat lapak-lapak penjual makanan yang merupakan penduduk sekitar. Selain melestarikan alam lingkungan, wisata monumen reog ini juga bisa menjadi sumber penghasilan warga sekitar, sehingga bisa meredam keinginan untuk menambang batu gamping.
Monumen reog mungkin belum selesai dibangun, tapi pesona Gunung gamping dan kemegahan monumen reog yang menjadi simbol kemegahan dan peradaban sudah terasa vibesnya.
Menjadi daya tarik wisatawan dan juga sumber penghidupan warga sekitar, monumen reog juga bisa menjadi wisata berkelanjutan yang terus mendatangkan manfaat.