Jandris_Sky
Jandris_Sky Mahasiswa

Kompasianer Terpopuler 2024 - 2025 Kompasiana Award Pelestari 2025

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

"Pilah Sampah" Mulai Dari Rumah, Mulai Dari Diri Sendiri

20 Juli 2026   11:38 Diperbarui: 20 Juli 2026   11:46 153 21 7


Mulai dari Rumah, Mulai dari Diri Sendiri: Pisahkan Sampah Supaya Bumi Bisa Bernapas Lebih Lega.


Pernahkah kita berpikir ke mana perginya sampah setelah truk pengangkut membawanya dari depan rumah? Banyak orang mengira urusan sampah selesai begitu kantong plastik keluar dari pagar. Padahal, perjalanan sampah masih sangat panjang. Jika semua jenis sampah tercampur menjadi satu, proses pengelolaannya menjadi jauh lebih sulit. Akibatnya, banyak sampah berakhir di tempat pembuangan akhir, mencemari lingkungan, bahkan sebagian terbawa ke sungai hingga laut.

Mulai dari Rumah, Mulai dari Diri Sendiri. (Sumber foto: Jandris_Sky/Gemini)
Mulai dari Rumah, Mulai dari Diri Sendiri. (Sumber foto: Jandris_Sky/Gemini)

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2026, timbulan sampah nasional mencapai sekitar 141.926 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sampah organik masih mendominasi, disusul oleh sampah plastik yang menjadi salah satu penyumbang pencemaran terbesar. 

Sayangnya, tingkat pengelolaan sampah nasional masih belum mampu mengimbangi jumlah sampah yang terus bertambah setiap harinya.

Melihat angka tersebut memang terasa mengkhawatirkan. Namun, kabar baiknya adalah solusi tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar atau teknologi canggih. Justru langkah sederhana dari rumah bisa memberikan dampak yang luar biasa. Salah satunya adalah memisahkan sampah sesuai jenisnya.

Kalimat "Mulai dari rumah, mulai dari diri sendiri" sebenarnya bukan sekadar slogan. 

Kalimat ini mengingatkan bahwa perubahan besar selalu berawal dari tindakan kecil. Ketika setiap anggota keluarga terbiasa memilah sampah, mereka ikut membantu mengurangi beban lingkungan sekaligus mempermudah proses daur ulang.

Memisahkan sampah sebenarnya sangat mudah. Kita hanya perlu menyediakan beberapa wadah berbeda. Sampah organik seperti sisa makanan, kulit buah, dan daun kering dapat dikumpulkan menjadi satu untuk diolah menjadi kompos. Sampah anorganik seperti botol plastik, tutup botol, kardus, kaleng, dan kaca dapat dipisahkan agar bisa didaur ulang. 

Sementara itu, sampah berbahaya seperti baterai bekas, lampu, atau obat kedaluwarsa juga perlu dipisahkan agar tidak mencemari tanah maupun air.

Kebiasaan sederhana ini membawa banyak manfaat. Sampah organik yang dipisahkan tidak akan bercampur dengan plastik sehingga proses pengomposan menjadi lebih mudah. Sebaliknya, plastik yang masih bersih memiliki nilai ekonomi karena dapat dijual ke bank sampah atau diolah kembali menjadi berbagai produk kreatif.

Saat ini, semakin banyak komunitas yang berhasil mengubah limbah plastik menjadi barang bernilai. Tutup botol plastik misalnya, kini dapat disulap menjadi tatakan gelas, gantungan kunci, meja kecil, papan dekorasi, hingga berbagai kerajinan tangan yang menarik. 

Semua itu hanya bisa dilakukan jika sampah dipilah sejak awal.

Selain memberikan nilai ekonomi, memilah sampah juga membantu mengurangi emisi gas rumah kaca. Sampah organik yang menumpuk di tempat pembuangan akan menghasilkan gas metana ketika membusuk. Gas ini memiliki dampak terhadap pemanasan global yang jauh lebih besar dibanding karbon dioksida. Dengan mengolah sampah organik menjadi kompos, kita ikut mengurangi pelepasan gas tersebut ke atmosfer.

Tidak hanya lingkungan yang mendapatkan manfaat, kebiasaan memilah sampah juga menjadi sarana pendidikan bagi anak-anak. Mereka belajar bahwa setiap benda memiliki siklus hidup dan tidak semuanya harus berakhir menjadi sampah. 

Dari sinilah tumbuh rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sejak usia dini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2