Jandris_Sky
Jandris_Sky Mahasiswa

Kompasianer Terpopuler 2024 - 2025 Kompasiana Award Pelestari 2025

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Jangan Buang Limbah Kulit Melon!

21 Juli 2026   07:34 Diperbarui: 21 Juli 2026   07:34 179 22 7

Dari jumlah tersebut, jenis sampah terbesar adalah sisa makanan atau food waste yang mencapai sekitar 43% - 49,87% dari total timbulan sampah harian. 

Artinya, setiap hari terdapat sekitar 3.311 - 3.989 ton sampah sisa makanan yang berasal dari rumah tangga, restoran, pasar, maupun pusat perbelanjaan.

Limbah buah, termasuk kulit melon, menjadi bagian dari tumpukan sampah organik tersebut.

Jika terus dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sampah organik akan mengalami pembusukan dan menghasilkan gas metana. Gas ini merupakan salah satu gas rumah kaca yang memiliki dampak lebih besar dibandingkan karbon dioksida dalam mempercepat perubahan iklim.

Pemanfaatan limbah kulit melon untuk dijadikan Pupuk Organik Cair. (Sumber foto: Jandris_Sky)
Pemanfaatan limbah kulit melon untuk dijadikan Pupuk Organik Cair. (Sumber foto: Jandris_Sky)

Karena itulah, mengurangi sampah organik sejak dari rumah merupakan langkah kecil yang memberikan dampak besar. Salah satunya adalah memanfaatkan kulit melon menjadi pupuk organik cair.

Kulit melon ternyata masih mengandung berbagai unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Kandungan kalium membantu memperkuat batang dan meningkatkan kualitas buah. Selain itu terdapat unsur fosfor yang berperan dalam pertumbuhan akar, serta berbagai senyawa organik yang dapat memperbaiki kondisi tanah. 

Setelah melalui proses fermentasi, nutrisi tersebut akan lebih mudah diserap oleh tanaman.

Proses pembuatannya pun sangat sederhana. Kulit melon dipotong kecil-kecil agar proses penguraian berlangsung lebih cepat. Selanjutnya dimasukkan ke dalam wadah tertutup bersama air, gula merah atau molase sebagai sumber makanan bagi mikroorganisme, lalu ditambahkan bioaktivator seperti EM4. 

Semua bahan diaduk hingga merata, kemudian wadah ditutup rapat dan difermentasi selama sekitar dua minggu.

Selama proses fermentasi berlangsung, mikroorganisme akan menguraikan bahan organik menjadi nutrisi yang larut dalam air. Setelah selesai, cairan disaring dan dapat digunakan sebagai pupuk organik cair. Sebelum diaplikasikan ke tanaman, pupuk sebaiknya diencerkan terlebih dahulu agar sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Banyak tanaman yang cocok menggunakan pupuk organik cair dari kulit melon, mulai dari cabai, tomat, kangkung, bayam, sawi, hingga berbagai tanaman hias. Penggunaan secara rutin dapat membantu tanaman tumbuh lebih hijau, akar lebih kuat, dan tanah menjadi lebih subur karena aktivitas mikroorganisme di dalamnya meningkat.

Yang menarik, kegiatan ini juga dapat menjadi media edukasi bagi anak-anak. Mereka bisa belajar bahwa sampah tidak selalu berakhir menjadi limbah yang tidak berguna. Dengan sedikit kreativitas, sampah organik justru dapat diubah menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi sekaligus manfaat bagi lingkungan.

Bayangkan jika setiap keluarga di Jakarta memanfaatkan sebagian kecil sampah organiknya menjadi pupuk.

Jumlah sampah yang masuk ke TPA tentu akan berkurang secara signifikan. Beban pengangkutan sampah menjadi lebih ringan, emisi gas rumah kaca dapat ditekan, dan masyarakat memperoleh pupuk alami secara gratis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3