Aku melangkah pelan di lantai yang retak
Menutup lapar dengan doa yang terendap
Empat pasang mata menatapku penuh harap
Tak tahu hatiku remuk berkali lipat
Kulihat dapurmu sunyi tak bernyala
Tapi tanganmu tetap mengaduk asa
Kau buat kami percaya pada esok hari
Meski kau sendiri hampir tak berdiri
Aku menangis di balik pintu rumah
Menyembunyikan lelah dari jiwa-jiwa lemah
Jilbab lusuh basah oleh air mata
Sejak ayahmu pergi, aku belajar terluka
Ibu, kau bilang kau baik-baik saja
Padahal dadamu penuh luka lama
Dunia percaya kau tak pernah runtuh
Padahal kau hancur demi kami tetap utuh
Jika kelaparan adalah harga cinta
Biarlah aku yang menahannya
Jika dunia terlalu kejam pada kita
Ibu... kaulah rumah paling setia
Kau sembunyikan neraka dalam senyuman
Agar kami tetap percaya pada kehidupan
Malam datang membawa dingin dan tanya
"Besok kita makan apa?" kau bertanya
Aku tersenyum menatap langit gelap
InsyaAllah ada rezeki... meski hatiku gemetar
Suatu hari kami akan tumbuh dan mengerti
Bahwa hidup kami dibayar air matamu sendiri
Ibu... kau patah tapi tak pernah pergi
Engkaulah alasan kami masih bernapas hari ini