Tahukah bahagiaku saat mengenalmu,
Langkah kecil ini terasa utuh,
Di antara tawa yang tak sempat lama,
Kita mulai cerita tanpa tanda.
Kedekatanku denganmu awal segalanya,
Antara luka dan bahagia,
Seolah dunia memberi warna,
Lalu perlahan menghapusnya.
Bila waktu bisa kuputar kembali,
Aku yakin takkan berubah lagi,
Karena jalan kita sudah tertulis,
Meski hati ini tak ingin habis.
Engkau lahir di istana megah,
Dengan takdir yang sudah terarah,
Sedang aku yatim penuh luka,
Berjuang dalam sunyi dan air mata.
Budayamu dan budayaku berbeda jauh,
Seperti langit dan bumi yang rapuh,
Aku hanya merangkai kata sederhana,
Untuk menutupi perih yang nyata.
Aku lelaki sebelum perang hati,
Sudah kalah tanpa berani,
Karena engkau telah dijodohkan,
Dengan dunia yang penuh kemewahan.
Kini aku meracik amunisi kata,
Menghibur luka yang tak bersuara,
Biar kau bahagia di jalanmu,
Aku tetap di sini... mencintaimu dalam bisu.