Halo! Aku Mahya Rahmi Hafida biasa dipanggil Mahya, aku adalah Mahasiswa Universitas Aisyiyah Yogyakarta tahun angkatan 2025, program studi D4 Teknologi Laboratorium Medis. Hobi aku bisa dibilang banyak dan cukup variatif, tapi hal yang paling aku suka lakuin ketika waktu senggang dan stress aku suka memasak.
Mahasiswa Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta membahas Hantavirus sebagai salah satu penyakit zoonosis yang masih jarang dikenal masyarakat, tetapi berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan yang serius. Hantavirus merupakan kelompok virus dari famili Hantaviridae yang secara alami dibawa oleh hewan pengerat, terutama tikus liar. Hewan pembawa umumnya tidak menunjukkan gejala sakit, tetapi dapat mengeluarkan virus melalui urin, feses, dan air liur. Penularan kepada manusia paling sering terjadi ketika seseorang menghirup partikel udara yang terkontaminasi kotoran atau urin tikus yang telah mengering, sehingga aktivitas seperti membersihkan gudang atau rumah yang lama tidak digunakan tanpa prosedur yang tepat dapat meningkatkan risiko penularan.
https://youtu.be/4GXiYO2hEq0?si=L89etTL0GyXwfeQH
Dalam pembahasan tersebut dijelaskan bahwa gejala infeksi Hantavirus pada tahap awal sering menyerupai influenza, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, mual, dan muntah. Pada beberapa kasus, penyakit dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih berat, seperti Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyebabkan gangguan pada paru-paru dan sesak napas, atau Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang ditandai dengan gangguan fungsi ginjal dan perdarahan. Diagnosis dilakukan melalui penilaian riwayat paparan, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan laboratorium seperti tes serologi dan PCR untuk memastikan adanya infeksi Hantavirus.
Selain membahas gejala dan diagnosis, mahasiswa Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta juga menekankan pentingnya upaya pencegahan sebagai langkah utama untuk mengurangi risiko infeksi. Pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, menutup akses masuk tikus ke dalam rumah, serta membersihkan area yang terkontaminasi kotoran tikus menggunakan disinfektan sebelum dibersihkan agar debu yang berpotensi mengandung virus tidak beterbangan. Hingga saat ini belum tersedia pengobatan antivirus yang spesifik untuk sebagian besar infeksi Hantavirus, sehingga deteksi dini dan penanganan medis yang tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.