Marahalim Siagian
Marahalim Siagian Konsultan

KONSULTAN Social and Forest Protection Specialist

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Karpet Hijau Kebun Teh di Kaki Gunung Kerinci

8 November 2019   03:15 Diperbarui: 8 November 2019   03:34 50 3 1

Bonggol teh perkebunan Kayu Aro ini sudah sebesar paha orang dewasa, mirip bonsai. Memiliki iklim dan tanah yang baik, perkebunan teh Kayu Aro menghasilkan pucuk-pucuk teh terbaik. 

Mulai dirintis tahun 1925 oleh perusahaan swasta bernama'Namlodse Venotchhhaaf Handle Veriniging Amsterdam', melalui nasionalisasi asset, perkebunan ini sekarang di bawah manajemen PTPN 6.

Para petualang yang ingin melakukan pendakian ke puncak Gunung Kerinci, akan menikmati sensasi hawa sejuk pegunungan dengan pemandangan yang memesona. 

Sebuah landsekap berupa karpet hijau yang datar bergelombang dengan garis-garis yang terbentuk alamiah mengikuti jejak para pemetik teh.

Penduduk dataran tinggi ini adalah orang Kerinci yang memilik sedikit banyak perbedaan bahasa serta adat istiadat dengan populasi besar Melayu. Namun, penduduk ring satunya bukan orang Melayu atau orang Kerinci, melainkan orang Jawa. 

Seperti umumnya perkebunan yang dikembangkan pada masa Hindia Belanda, keberadaan komunitas Jawa disini karena mereka didatangkan untuk dipekerjakan sebagai buruh perkebunan. 

Sekarang, mereka tidak lagi hanya jadi buruh perkebunan teh, sebagian dari mereka telah menjadi pengelola home stay serta pemilik toko yang menyediakan kebutuhan pariwisata yang berkembang di Desa Kersik Tuo, Kayu Aro, kaki Gunung Kerinci.  

Dimasanya, era tahun 30an, ada sejumlah perkebunan teh yang dikembangkan Hindia Belanda di Sumatera bagian Tengah. Perkebunan-perkebunan itu dulunya masih bagian dari keresidenan Sumatera Barat.  

Perkebunan-perkebunan itu adalah: kebun Kayu Aro seluas 2.525 ha, kebun teh Danau Gedang seluas 2.500 ha, kebun teh Sako Dua seluas 2.825 ha adalah penghasil pucuk-pucuk teh terbaik, grade satu. 

Kemudian, kebun Pecconina seluas 2.024 ha, hasil produksi tehnya grade nomor 2.  Kebun teh Bukit Malinggang seluas 1.720 ha, kebun Halaban seluas 1.615 ha menghasilkan teh kualitas nomor 3 serta kebun Tanang Talu seluas 982 ha. hasil produksi tehnya grade nomor 5. 

Bagi anda yang tertarik dengan sejarah perkebunan teh di Sumatera, saya sarankan untuk membaca tulisan E.B. Sabaktani Sihotang dalam Jurnal Prodi Ilmu Sejarah Vol. 3 No. 5 Tahun 2018.

Seperti halnya kopi, introduksi perkebunan teh telah melahirkan budaya dan komunitas penikmat teh di Indonesia. Sebagai budaya, kita mengenal istilah afternoon tea dan high tea. Pemerhati teh, Ratna Somatri (Kompas, 9/9/2014) menyebut, afternoon tea adalah cara meminum teh ala bangsawan yang lebih ke arah gaya hidup. Teh disajikan pakai meja pendek, ditemani kue kecil-kecil yang tidak mengenyangkan, menggunakan peralatan yang cantik-cantik, teh diminum antara jam 3 sampai jam 4 sore.

Sementara high tea cara meminum teh ala ala buruh pabrik. Para buruh yang pulang dari pabrik antara jam 4 sampai jam 5 sore biasanya meminum teh karena sudah merasa lapar, teh diminum dengan snack yang mengenyangkan seperti pie daging yang isinya jeroan.

Teh dan kopi yang awalnya merupakan tanaman cash crop yang tujuaan pengembangannya adalah untuk eskpor ke luar negeri, sekarang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari rumah tangga-rumah tangga di Indonesia. 

Rasanya, kita orang Indonesia, tiada hari tanpa teh dan kopi.