Lulusan S1 Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Jember. Pernah bekerja di perusahaan eksploitasi kayu hutan (logging operation) di Sampit (Kalimantan Tengah) dan Jakarta, Projek Asian Development Bank (ADB) pendampingan petani karet di Kuala Kurun (Kalimantan Tengah), PT. Satelit Palapa Indonesia (Satelindo) Surabaya. Sekarang berwirausaha kecil-kecilan di rumah. E-mail : mawansidarta@yahoo.co.id atau mawansidarta01@gmail.com https://www.youtube.com/channel/UCW6t_nUm2OIfGuP8dfGDIAg https://www.instagram.com/mawansidarta https://www.facebook.com/mawan.sidarta https://twitter.com/MawanSidarta1
Kompleks makam Kanjeng Sepuh Sidayu berada persis di belakang Masjid Kanjeng Sepuh Sidayu. Selain pusara milik Kanjeng Sepuh Sidayu juga terdapat beberapa pusara penguasa kala itu.
Gaya arsitektur pusara Kanjeng Sepuh Sidayu dan keturunan (kerabat) nya boleh dibilang cukup unik. Selain itu di kompleks pekuburan ini juga bisa kita saksikan banyak sekali nisan-nisan kuno tanpa nama. Keadaan kompleks makam terlihat terawat dengan sangat baik.
Kota Gresik yang sangat maju dengan sektor perindustriannya itu ternyata dulu juga memiliki kota kecamatan yang sangat melegenda. Kecamatan itu bernama "Sidayu" (ada yang menyebutnya "Sedayu").
Mengapa sedemikian istimewa nama Sidayu ini? Usut punya usut ternyata kecamatan ini dulu, di masa kolonial Belanda atau masa keemasan Kerajaan Mataram di Jawa Tengah merupakan wilayah kadipaten (kabupaten) tersendiri.
Kota yang kondang dengan pesantren anak-anaknya itu ternyata dulunya terhubung langsung dengan pemerintahan Prabu Amangkurat I di Jawa Tengah.
Kanjeng Sepuh Sedayu atau yang bernama asli Raden Haryo Soeryodiningrat itu semasa hidupnya merupakan adipati yang berpihak kepada rakyat kecil.
Di masa kepimpinan beliau pada tahun 1816-1855, saat Belanda masih bercokol di bumi pertiwi ini segala kebijakan beliau senantiasa meringankan kawula alit terutama soal pungutan pajak.
Adipati ke-8 sejak berdirinya Sidayu (1675) itu memang dikenal sangat berani menentang Belanda terutama soal diskriminasi tarif pajak bagi para pedagang kala itu.
Ada beberapa warisan lain beliau yang hingga kini masih bisa kita saksikan keberadaannya. Beberapa di antaranya : reruntuhan Masjid Sidayu (Pesujudan Kanjeng Sepuh) di Desa Mriyunan, Sumur Dhahar di Desa Golokan dan Telaga Rambit di Desa Purwodadi.