Setelah dari Museum Memorial Jenderal Besar HM Soeharto, perjalanan kami belum selesai.
Ada satu nama besar lain yang menunggu kami, seorang maestro yang tidak hanya melukis, tapi "menghidupkan" kanvasnya: Affandi.
Begitu tiba di Museum Affandi, suasananya langsung berbeda.
Tidak ada kesan kaku seperti museum pada umumnya. Yang terasa justru... liar, bebas, dan sedikit "gila" persis seperti karakter lukisan Affandi.

Candaan Sebelum Masuk (Yang Ternyata Jadi Ironi...)
Sebelum masuk, saya sempat bercanda dengan istri:
"Ini pelukis katanya jenius ya... biasanya yang jenius itu agak 'nggak normal'... jangan-jangan nanti lukisannya malah 'lihat balik' ke kita..."
Istri saya langsung nyaut:
"Kalau lukisannya lihat balik ke kamu sih wajar... kamu kan memang aneh dari awal..."
Kami tertawa.
Tapi entah kenapa... setelah masuk ke dalam, candaan itu seperti berubah makna.
Galeri 1: Lukisan yang Tidak Sekadar Dilihat
Kami diajak petugas masuk ke Galeri 1.
Di sinilah jiwa Affandi terasa paling kuat.
Satu hal yang langsung terasa:
lukisan-lukisan itu bukan untuk "dinikmati"... tapi seperti mengajak berdialog.
Istri saya, seperti biasa, langsung aktif:
bertanya dari satu lukisan ke lukisan lain, tentang makna, teknik, bahkan emosi di balik setiap goresan.
Dan petugas menjelaskan dengan sabar, utuh, dan penuh rasa.
Saya sendiri?
Lebih banyak diam.
Karena semakin lama melihat... ada perasaan seperti:
kita bukan sedang melihat lukisan... tapi sedang "dibaca" oleh lukisan itu.
Mobil Tua dan Kesederhanaan Sang Maestro
Di salah satu sudut, dipajang mobil tua milik Affandi.
Bukan mobil mewah.
Bukan simbol kekayaan.
Tapi justru di situlah terasa:
seorang maestro besar... tetap hidup sederhana.
Istri saya sempat berkomentar pelan:
"Orang besar itu kadang justru tidak butuh terlihat besar ya..."
Saya hanya mengangguk.
Petilasan: Sunyi yang Tidak Kosong
Kami kemudian masuk ke area petilasan, tempat peristirahatan terakhir Affandi dan istrinya.
Suasananya... sunyi.
Tapi bukan sunyi yang kosong.
Lebih seperti sunyi yang "penuh".
Ada rasa hormat.
Ada rasa kecil.
Dan entah kenapa... candaan kami di depan tadi terasa seperti "ditarik kembali" oleh suasana.

Kopi di Bawah Rumah Sang Pelukis
Setelah semua selesai, kami duduk menikmati kopi
di bawah tempat Affandi tinggal semasa hidupnya.
Angin pelan.
Suara pengunjung samar.
Saya bilang ke istri:
"Kalau orang ini masih hidup... mungkin dia nggak akan ngobrol... dia langsung melukis kita."
Istri saya langsung jawab:
"Kalau kamu yang dilukis... mungkin judulnya 'Pria Bingung di Dunia Nyata'..."
Kami tertawa lagi.
Tentang "Misteri" yang Sebenarnya
Tidak ada pembunuhan.
Tidak ada kisah tragis seperti yang sering dibayangkan orang.
Tapi ada sesuatu yang lebih kuat:
Affandi "tidak pernah benar-benar pergi."
Ia masih ada...
di setiap garis liar,
di setiap warna yang seperti meledak,
dan di setiap rasa tidak nyaman yang justru membuat kita berpikir.

Penutup
Dari Soeharto ke Affandi,
dari kekuasaan ke ekspresi jiwa...
Perjalanan hari itu seperti mengingatkan saya:
Ada orang yang dikenang karena kekuasaannya,
dan ada yang dikenang karena jiwanya.
Dan anehnya...
yang terakhir justru terasa lebih abadi.