FOMO TERHADAP TREN TIKTOK DIKALANGAN REMAJA
Oleh: Mulantari

PENDAHULUAN
SORONG, kamis 18 Juni 2026. Di era Digital seperti saat ini, media sosial menjadi salah satu platform yang tidak bisa terpisahkan dari kehidupan manusia. adanya media sosial seperti Facebook, Instagram, Tiktok dll, manusia akan lebih mudah memperoleh informasi, berita, hingga tren yang sedang trending akhir-akhir ini. Aplikasi tersebut merupakan media digital yang selalu di gunakan oleh Masyarakat, hampir disetiap penjuru daerah. Sama halnya dengan anak generasi sekarang, yang dimana mereka sering menggunakan atau membuka aplikasi tiktok. Tiktok merupakan salah satu platform terpopuler dikalangan anak remaja hingga orang Dewasa, yang berisikan segala informasi, Isu Sosial, tantangan (Challenge), atau bahkan tarian terbaru.
Akan tetapi, dibalik kemudahan tersebut muncul sebuah fenomena yang biasa disebut fear of missing out (FOMO), yaitu, rasa takut tertinggal. istilah ini merujuk pada fenomena psikologis berupa perasaan cemas, khawatir, atau takut tertinggal akan sesuatu tren, pengalaman menyenangkan atau bahkan sebuah momen yang sedang dinikmati oleh orang lain.
Buka Tiktok langsung disuguhkan dengan barang-barang terbaru, tempat nongkrong yang hits, hingga tari-tarian terbaru. sehingga banyak pengguna yang memiliki rasa ingin membeli, bahkan mengikuti tarian-tarian yang sebenarnya kita tidak tau apa artinya. Hal inilah yang menyebabkan masyarakat atau anak Remaja terus menerus memantau media sosial, agar mereka selalu up to date dan tidak memiliki rasa ketinggalan zaman, kudet dll.
Menurut, KOMPAS.com - tiktok menjadi aplikasi media sosial (medsos) paling banyak diakses masyarakat Indonesia saat ini. Hal itu terungkap dalam laporan terbaru Asosiasi penyelenggara jasa internet Indonesia (APJII) berjudul “Survei penetrasi internet dan perilaku pengguna internet 2026”. Laporan itu menyebut, dari total 235,2 juta penduduk Indonesia yang terkoneksi internet, 31,8 persennya mengakses tiktok tahun ini, turun dari angka 35,2 persen tahun lalu. Data survei yang dilakukan pada 638 remaja di Indonesia bahwa sekitar 64,6 atau 412 remaja mengalami fomo di media sosial (koloeti dkk., 2021). Perkembangan media sosial yang semakin pesat membuat fenomena fomo pada remaja semakin meningkat.
Dalam platform tiktok terdapat fitur fyp (for you page) yang bekerja menggunakan alogoritma yang akan memunculkan konten-konten sesuai minat, hingga interaksi penguna secara terus-menerus. Sehingga membuat pengguna tiktok ingin terus mengikuti tren yang muncul di beranda. Hal inilah yang mendorong pengguna, ksususnya anak remaja memiliki perasaan cemas jika tidak mengikutinya, karena terus-menerus di tontonkan konten-konten viral ataupun menarik melalui fitur Fyp, sehingga merasa hidup mereka terus dibandingkan dengan hidup ideal orang lain. akibatnya, hal inilah yang membuat anak remaja merasa tertekan dan membuat mereka untuk selalu menggunakan aplikasi tersebut sehingga terhubung dan tidak terlepas, agar tidak tertinggal.
Menurut saya, tiktok memang membantu dalam mencari informasi, berita-berita tertentu hingga konten Edukasi, akan tetapi dengan adanya karakter Fomo tersebut dapat menimbulkan dampak Positif dan juga Negatif.
Dampak Positifnya, seseorang akan mendapatkan Motivasi untuk pengembangan diri, menambah wawasan terbaru, dan memiliki keberanian untuk berekspresi.