Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Don't say he is gone
The journey's just begun
He's lived in many faces
In the world that we are one
Think of him at rest
From sorrow and from tears
He rests in warmth and comfort
Where time has no frontiers
Don't think, don't think
He is still here
In every heart
He touched so dear
Don't think, don't think
His love won't cease
Because he never stopped
Loving in peace
Think of his wishes
The plans we cannot know
The ache we carry now
Will slowly let us go
Still, in every hand
That learned to hold and give
He stays inside the moments
Where love goes on to live
Don't think, don't think
He is still here
In every heart
He touched so dear
Don't think, don't think
His love won't cease
Because he never stopped
Loving in peace
Let the tears come down
Let the dark pass through
There's a warmth around him now
That we cannot undo
No border, no hour
Can hold a soul this kind
He rests, but he remains
In all the hearts he left behind
Don't think, don't think
He is still here
In every heart
He touched so dear
Don't think, don't think
His love won't cease
Because he never stopped
Loving in peace
He/She is Still Here, Pemegang Hak Cipta Musik, Lirik, Vokal, Video: Opa Jappy

Ratapan Kehilangan Sebelum Waktunya
Don't say he is gone / The journey's just begun / He's lived in many faces / In the world that we are one
Think of him at rest / From sorrow and from tears / He rests in warmth and comfort / Where time has no frontiers
Kematian fisik adalah keniscayaan, namun kehilangan masa depan sebelum dimulai adalah tragedi kemanusiaan yang akut. Melalui untaian lirik di atas, bisa menyelami ruang berkabung. Namun, ketika dikontekstualisasikan ke dalam realitas kelam kejahatan Predator Child Grooming, makna "kehilangan" tersebut bertransformasi menjadi gugatan moral yang menyayat hati.
"Think of his wishes / The plans we cannot know / The ache we carry now / Will slowly let us go"
Predator Child grooming adalah pembunuhan karakter secara sistematis; bekerja senyap, membangun manipulasi psikologis, curahan perhatian palsu, dan isolasi emosional. Di dalam dinding itulah, suara korban diredam.
Kebungkaman korban selama proses manipulasi membuat orang-orang di sekitarnya buta terhadap badai yang sedang terjadi. Mereka dipaksa menghadapi "the plans we cannot know," cita-cita, tawa, dan masa depan anak yang dirampas paksa sebelum mekar. Ketika tabir itu akhirnya terbongkar, atau ketika korban telah tiada, yang tersisa hanyalah "the ache," sakit, ngilu, dan hampa yang menetap di hati orang-orang terdekat.
Muncul duka yang mengandaskan, "Mengapa kita tidak menyadarinya lebih cepat?" Pertanyaan retoris terlambat, tapi terus menggema sebagai hukuman pada mereka yang ditinggalkan.
"Don't think, don't think / He is still here / In every heart / He touched so dear"
"Don't think, don't think" mencerminkan denial (penolakan) atau syok psikologis yang mendalam dari keluarga dan lingkungan sekitar. Ada penolakan emosional hebat terhadap kenyataan pahit bahwa Sang Kasih Sayang, anak atau remaja yang semula ceria, telah tiada atau hancur jiwanya akibat kejahatan keji Predator Child Grooming; monster yang berhasil menyusup serta merenggut kesucian hidup dan kehidupan anak-anak.
"Think of him at rest / From sorrow and from tears / He rests in warmth and comfort / Where time has no frontiers"
Bagi anak atau remaja (terutama anak perempuan) yang terperangkap Predator Child Grooming, dunia nyata tidak lagi menjadi rumah, melainkan labirin intimidasi, bersalah yang dipaksakan (victim blaming), dan malu yang akut. Keutuhan diri mereka dicabik-cabik hingga tak tersisa kebanggaan, selain kehancuran. Pada titik nadir itu, temuan-temuan kemanusiaan di lapangan menunjukkan muara yang paling memilukan. Tak sedikit korban yang akhirnya memilih untuk "menyerahkan durasi hidup dan kehidupannya ke hadapan Sang Pencipta."
Keputusan fatal itu bukan tanda kelemahan atau keputusasaan dangkal. Tapi, puncak dari "suara yang tak pernah didengar," jeritan tersumbat stigma masyarakat, dan takut akibat ancaman Predator Child Grooming. Sehingga pada diri korban, kembali ke pelukan Pencipta adalah satu-satunya cara radikal untuk merebut kembali eksistensi dan keutuhan diri yang telah hancur.
WA +62 81 81 26 858