Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana


Perbaikan gizi masyarakat merupakan agenda krusial bagi masa depan bangsa. Ironisnya, perdebatan mengenai Badan Gizi Nasional (BGN) justru sering mendominasi ruang diskusi mewah kaum elit. Kelompok berkecukupan sibuk mengkritik efisiensi anggaran serta memprediksi kegagalan program dari balik meja nyaman mereka. Skeptisisme tersebut bukan didasari kepedulian terhadap rakyat, tapi bentuk ketidakpedulian nyata akibat jarak empati teramat jauh.
Kaum menengah ke atas terjebak tuntutan kesempurnaan sistem sebagai syarat mutlak pelaksanaan bantuan. Padahal, jutaan warga di pelosok daerah, program Makanan Bergizi Gratis (MBG) adalah penyambung hidup utama. Namun, ancaman muncul dari oknum pejabat lokal bermental korup. Anggaran porsi makanan sederhana tega dipangkas demi mempertebal kantong pribadi. Penderitaan rakyat miskin hanya statistik, bahkan dipandang sebagai kesempatan emas melakukan pencurian.
Fakta Serakah di BGN, salah satu bukti bahwa monster nyata bukan elit global, melainkan elit lokal berhati dingin di Negeri Tercinta. Kelompok ini merasa paling memahami kebutuhan publik tanpa pernah sekalipun turun langsung ke lapangan.
Sudah saatnya menghentikan sikap sinis mengharapkan kegagalan program demi pembuktian argumen pribadi. Negara membutuhkan tindakan nyata, bukan analisis kosong kelompok berkecukupan
