pieter sanga lewar
pieter sanga lewar Penulis

Hobi membaca dan menulis artikel, puisi, cerpen, novel, dan baca puisi

Selanjutnya

Tutup

Video

Ironi di Halaman Sekolah

1 November 2026   09:36 Diperbarui: 1 November 2026   09:36 80 0 0


Ironi di Halaman Sekolah

Di halaman sekolah yang dindingnya setengah diruntuhkan,
anak-anak mengeja masa depan dengan debu di telapak kaki.
Merah putih berkibar di tiang bambu yang letih,
sementara koperasi yang belum lahir telah lebih dulu menggusur mimpi.
Ironi berdiri tegak di halaman itu,
lebih kokoh daripada bangunan yang telah roboh.

Wapres datang membawa tanya dan janji,
sementara angin Ende mengantar kisah yang lama terpendam.
Jalan pintas dipilih demi pembangunan, kata mereka,
tetapi jalan pintas itu justru memotong ruang belajar anak-anak.
Negeri ini memang pandai membuat alasan,
bahkan ketika kapur tulis kalah oleh suara palu dan cangkul.

Anak-anak tersenyum menyambut tamu negara,
meski atap harapan mereka bocor oleh keputusan yang tergesa.
Mereka belum mengerti arti musyawarah dan kebijakan,
yang mereka tahu hanya bangku yang bergeser dan tembok yang hilang.
Di usia yang masih belajar mengeja kata "masa depan",
mereka telah diajari arti kehilangan.

Lalu lahirlah ironi berikutnya yang mengetuk jantung siang,
Makan Bergizi Gratis ternyata belum sampai ke meja mereka.
Di tanah yang disebut tertinggal dan terluar,
janji gizi masih menunggu stempel dan tanda tangan.
Perut anak-anak belajar bersabar,
sementara birokrasi berjalan selambat bayang-bayang sore.

Di ruang kelas, panel interaktif berdiri gagah,
seperti kapal mewah yang kandas di padang pasir.
Teknologi dipajang sebagai lambang kemajuan,
namun sinyal internet tak pernah menemukan alamat sekolah itu.
Anak-anak memandang layar yang bisu,
dan kemajuan berubah menjadi lelucon yang mahal.

Seorang ibu merekam kedatangan pejabat dengan telepon genggam,
bukan untuk mengirimkan kabar, melainkan menyimpan kenangan.
Video itu terkurung dalam memori ponsel,
seperti harapan yang menunggu jaringan datang dari langit.
Betapa lucunya zaman ini,
ketika kamera ada, tetapi dunia tak bisa dijangkau.

Keluhan demi keluhan mengalir seperti sungai kemarau,
uang komite, gaji honorer, hingga pembangunan yang gaduh.
Mereka berbicara dengan suara sederhana,
namun gema penderitaannya memantul sampai langit Flores.
Negeri mendengar semuanya dengan saksama,
lalu mencatatnya dalam buku janji yang semakin tebal.

Saat senja turun di Wolomoni, anak-anak kembali ke rumah,
melewati pagar bambu yang menyimpan luka pembangunan.
Mereka membawa tas, mimpi, dan kesabaran yang terlalu dini.
Sementara para pejabat kembali dengan pesawat dan laporan.
Tinggallah ironi menggantung di langit Nusa Tenggara Timur
merdeka telah lama tiba, tetapi pemerataan masih mencari jalan pulang.

Sumber: AKTIVITAS WAKIL PRESIDEN, "Sederet Ironi Menyapa Wapres Gibran di SD Wolomoni" dalam Kompas, Sabtu 20 Juni 2026, hlm. 15.