Andri Mastiyanto
Andri Mastiyanto Tenaga Kesehatan

Best Storytelling Danone Blogger Academy 2018, 46 x winners Blogcomp, Nominator tunggal Best Member Backpacker Jakarta 2014, Nominator Inspiratif Member BPJ 2016, content writer, email : mastiyan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

PNS Inspiratif "Dyah Putri Ambarwati", Malaikat Tak Bersayap Anak dengan Kelainan Hati Kronis

19 November 2020   11:39 Diperbarui: 19 November 2020   13:44 82 22 0


Sosok ini 'Dyah Putri Ambarwati' (37 thn) sudah daku kenal sepak terjangnya di kegiatan sosial sejak 2015. Daku menyebut Dyah Putri Ambarwati sebagai Malaikat Tak Bersayap bagi anak-anak kelaianan hati kronis. Keluarga dan anak-anak kelaianan hati kronis ini mendapat panggilan sebagai pejuang hati.

Dyah merupakan pencetus "Gerakan Nasi Kotak Untuk Berbagi" di RSKO Jakarta pada bulan maret 2015. Gerakan sosial ini dijalankan dengan menjual kuliner di RSKO Jakarta dimana hasil penjualan 100 % digunakan untuk membantu keperluan keluarga dan pasien kelainan hati kronis. 

Gerakan dijalankan oleh sembilan orang ASN RSKO Jakarta melalui penjualan nasi kotak seharga sepuluh ribu rupiah. Dari Maret 2015 s/d Desember 2016 sudah terjual lebih kurang 2000 box. Selama 22 bulan Gerakan ini telah membantu Pejuang Hati tidak kurang dari 60 penerima manfaat.

Kemudian dirinya di tahun 2017 mendirikan Gerakan Pejuang hati. Selain mendampingi anak dengan gangguan hati kronis, gerakan ini juga turut terjun ke masyarakat untuk mensosialisasikan gangguan hati pada anak dan seputar donor hati. 

Gerakan Pejuang hati menyediakan fasilitas Rumah Singgah Pejuang Hati bersama Hery dan Sutriono pada 14 januari 2020. Fasilitas rumah singgah pejuang hati merupakan tempat tinggal sementara bagi anak dan keluarga dengan gangguan hati kronis dari luar Jabodetabek yang akan melakukan transplantasi hati di RSCM Jakarta. 

Rumah yang dijadikan rumah singgah merupakan bangunan 2 (dua) lantai yang kami sewa dan beralamat di Jl.Kenari 2 No.177 tidak jauh dari RSCM tempat mereka berobat dan menggantungkan harapan kesembuhan anak mereka. 

Jumlah kamar yang tersedia bagi Pejuang Hati sebanyak 7 (tujuh) kamar. Bila terjadi peningkatan kebutuhan rumah singgah, kami menyewa rumah kontrakan disekitar Rumah Singgah. 

Adapun yang berhak tinggal disana adalah orang tua dari luar Jabodetabek yang tidak memiliki kemampuan untuk hidup di Jakarta, sedangkan kondisi anak mereka memaksa untuk mereka tetap ada di Jakarta sampai anak mereka menjalani Transplantasi Hati. 

Aceh, Papua, Gorontalo, Makassar, Lampung, Sumbawa, Tegal, Malang, Sidoarjo, Bandung adalah beberapa daerah asal keluarga Pejuang Hati yang pernah dan sedang tinggal di Rumah Singgah Pejuang Hati.

Tidak hanya menyediakan rumah singgah, dirinya bersama Hery dan Sutriono menjadi pelopor pelatihan kemandirian bagi keluarga Pejuang Hati di tahun 2018. 

Pelatihan kemandirian ini  dibuat dengan secara aplikatif , mudah, dan langsung bisa dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari orang tua pejuang hati Jabodetabek yang sedang berjuang. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3