Surealisme dan pencarian makna
Parajanov menolak hubungan sebab-akibat yang lazim dalam penceritaan konvensional. Adegan-adegannya bergerak melalui asosiasi, simbol, ritual, dan logika puitis. Peristiwa tidak selalu dijelaskan secara psikologis; maknanya muncul dari benturan atau pengulangan gambar. Karena itu, surealisme dalam film ini bukan sekadar keanehan visual, melainkan cara menggambarkan pengalaman batin yang sulit diterjemahkan ke dalam bahasa rasional.
Di sinilah film tersebut terasa eksistensial. Sayat-Nova menjalani kehidupan melalui puisi, seni, cinta, dan spiritualitas, tetapi keindahan semua itu tidak otomatis memberikan jawaban atas keberadaan manusia. Seni dapat menjadi sarana untuk merawat makna, sekaligus memperlihatkan betapa rapuhnya makna ketika berhadapan dengan waktu dan kematian.
Pada akhirnya, The Color of Pomegranates tidak menawarkan kesimpulan yang mudah. Film ini justru memperlihatkan bahwa manusia terus menafsirkan dunia melalui simbol yang diwariskan dan diciptakannya sendiri. Mungkin seni tidak menghapus kekosongan hidup; seni hanya memberi kekosongan itu bentuk, warna, dan bahasa.