Reno Radzabi
Reno Radzabi Seniman

Sutradara dan penulis naskah film Ig: @renoism__

Selanjutnya

Tutup

Video

Nostalghia: Ketika Manusia Kehilangan Arti Sebuah Rumah

5 November 2026   16:37 Diperbarui: 5 November 2026   16:37 147 0 0

Selain Andrei, Domenico merupakan karakter yang memiliki posisi penting dalam konstruksi filosofis film ini.

Masyarakat menganggapnya sebagai orang gila karena pernah mengurung keluarganya di dalam rumah selama bertahun-tahun. Tindakannya dianggap tidak masuk akal dan bertentangan dengan norma sosial. Namun, Tarkovsky justru menggunakan karakter ini untuk mempertanyakan kewarasan dunia yang menghakiminya.

Domenico melihat sesuatu yang gagal disadari oleh masyarakat di sekitarnya: manusia semakin terfragmentasi dan kehilangan kemampuan untuk hidup bersama. Ia menginginkan dunia yang lebih manusiawi, tempat manusia saling membantu dan tidak terperangkap dalam kepentingan individual masing-masing.

Ironi tersebut mencapai puncaknya ketika Domenico menyampaikan pidato di atas patung Marcus Aurelius di Roma. Ia berbicara tentang kehancuran peradaban, keterasingan, dan perlunya manusia kembali bersatu. Sementara orang-orang di sekitarnya hanya menyaksikan dengan kebingungan, bahkan sebagian tidak benar-benar memahami apa yang sedang ia perjuangkan.

Secara semiotik, Domenico menjadi simbol manusia yang dianggap menyimpang karena menolak menerima keadaan dunia sebagaimana adanya. Ia mungkin kehilangan kewarasan menurut ukuran masyarakat, tetapi justru memiliki kesadaran moral yang tidak lagi dimiliki oleh orang-orang di sekitarnya.

Tarkovsky seolah mengajukan pertanyaan: apakah kegilaan benar-benar terletak pada seseorang yang menolak dunia, atau justru pada dunia yang telah terbiasa hidup tanpa kepedulian terhadap sesamanya?

Adegan Lilin: Perjuangan Mempertahankan Cahaya

Salah satu bagian paling puitis dalam film ini adalah adegan ketika Domenico meminta Andrei membawa lilin yang menyala dari satu sisi kolam ke sisi lainnya.

Tugas tersebut terdengar sederhana. Namun, angin berkali-kali memadamkan api lilin yang dibawa Andrei. Ia terus kembali ke titik awal untuk menyalakannya kembali, hingga akhirnya berhasil menyelesaikan tugas tersebut.

Secara dramaturgis, adegan ini memiliki kekuatan karena Tarkovsky tidak membutuhkan dialog panjang untuk menjelaskan maknanya. Konflik dibangun melalui tindakan sederhana yang terus diulang. Penonton dibuat menunggu, menyaksikan kegagalan, dan merasakan ketegangan dari sesuatu yang tampaknya begitu sepele.

Lilin menjadi tanda visual yang kaya akan makna. Cahayanya dapat dibaca sebagai representasi iman, cinta, harapan, ingatan, mimpi, dan kemanusiaan. Sementara angin menjadi kekuatan yang terus mengancam keberadaan cahaya tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4