Suprihadi SPd
Suprihadi SPd Penulis

Pendidikan SD hingga SMA di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Kuliah D3 IKIP Negeri Yogyakarta (sekarang UNY) dilanjutkan ke Universitas Terbuka (S1). Bekerja sebagai guru SMA (1987-2004), Kepsek (2004-2017), Pengawas Sekolah jenjang SMP (2017- 2024), dan pensiun PNS sejak 1 Februari 2024.

Selanjutnya

Tutup

Video

Tempat Ibadah di Pusat Perbelanjaan Perlu Pembenahan Lebih Baik

7 Juni 2024   18:09 Diperbarui: 7 Juni 2024   18:22 620 3 3

Tempat Ibadah di Pusat Perbelanjaan Perlu Pembenahan Lebih Baik


Apabila kita berada di pusat perbelanjaan pada tengah hari, saat waktu salat tiba, tentu banyak pengunjung atau karyawan di sana ingin menunaikan ibadah dengan segera.

Dokpri
Dokpri
Pengusaha pusat perbelanjaan yang memahami kebutuhan ibadah, khususnya untuk salat, tentu akan menyediakan lokasi yang nyaman dan mudah diakses.

Bagaimana fakta di Indonesia? Sudah berapa pusat perbelanjaan yang kita datangi dan sudah seberapa puas kita dengan kondisi tempat ibadah untuk salat yang cukup representatif.

Para konsumen atau pengunjung pusat perbelanjaan tentu akan menandai, lokasi mana yang enak untuk beribadah pada tengah hari atau sore hari (salat zuhur dan asar), atau malam hari (salat magrib dan isya).

Apabila pusat perbelanjaan itu cukup nyaman tempat ibadahnya, tentu ia atau mereka akan berkunjung ke sana tidak kenal waktu karena saat waktu salat tiba bisa memanfaatkan fasilitas untuk salat yang disediakan dengan baik.

Pada hari Jumat (7/6/2024) saya diajak Pak Imam Mudin untuk singgah di pusat perbelanjaan yang cukup besar di Kota Balikpapan. Pada waktu salat Jumat hampir tiba, kami agak kebingungan menuju lokasi tempat salat.

Tidak ada tanda atau denah yangkami temukan yang menunjukkan lokasi tempat salat. Pak Imam Mudin harus bertanya beberapa kali kepada satpam untuk menemukan lokasi salat Jumat pada pusat perbelanjaan yang cukup ramai pengunjung tersebut.

Ketika sudah tiba di lokasi tempat salat Jumat, jamaah di dalam musala sudah cukup banyak (hampir penuh). Ada petugas yang menggelar ambal atau "tikar" untuk jamaah yang tidak kebagian tempat di dalam musala.

Suara khatib dalam musala tidak terdengar dari luar padahal jumlah jamaah di luar terus bertambah. Saya merasa cukup prihatin dengan kondisi seperti itu. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2