Tabrani Yunis
Tabrani Yunis Guru

Tabrani Yunis adalah Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh, juga sebagai Chief editor majalah POTRET, majalah Anak Cerdas. Gemar menulis dan memfasilitasi berbagai training bagi kaum perempuan.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Membangun Kemampuan Acting Anak di Depan Kamera

13 November 2019   00:35 Diperbarui: 13 November 2019   06:24 39 2 2

Berdiri di depan kamera saat ini semakin sering dilakukan orang, apalagi untuk mengambil foto atau berfoto yang selama ini disebut dengan aksi selfie, sejalan dengan semakin mudahnya kita mengambil foto diri. 

Tidak harus memiliki kamera-kamera besar seperti dahulu yang ditenteng ke sana ke mari.Sekarang kamera ada di dalam genggaman. Bukan hanya untuk mengambil atau berfoto, tetapi juga bisa membuat video

Jadi, saat ini membuat video pun bisa dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja. Yang penting  gadget atau HP alias gawai yang dimiliki memiliki kamera dan kapasitas yang bagus,  semua bisa dilakukan. Begitu mudah, bukan?

Ya jelas mudah dan tidak bisa disangkal lagi.  Karena kemajuan dan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang begitu pesat, semua menjadi mudah, termasuk dalam melakukan rekaman-rekaman dalam bentuk video tersebut. Siapa pun bisa membuat video sendiri. Wajar saja, kalau sekarang orang banyak yang bisa dan dengan mudah membuat video. 

Namun, ketika membuat video acting atau tampil menyampaikan sesuatu seperti melakukan kegiatan reportase, atau memberikan penyajian dan melakukan public speaking, pasti tidak semudah membuat foto selfie atau swafoto, maupun membuat rekaman video di mana yang menjadi objek foto atau target kamera adalah orang lain. 

Kita hanya sebagai fotografer atau juru kamera. Lalu, bagaimana bila kita sendiri yang menjadi objek kamera dan diminta untuk berbicara atau beraksi? Apakah semudah kita membuat swafoto?

Tentu tidak semudah itu. Apalagi kalau tidak terbiasa beraksi atau acting di depan kamera dengan membawa misi atau topik tertentu yang harus dijelaskan kepada orang lain. Pasti kita akan berhadapan dengan kondisi yang berbeda. 

Karena ada banyak hal yang membuat kita tidak bisa tampil di depan kamera untuk menyampaikan sesuatu. Biasanya perasaan yang paling mengganggu adalah rasa gugup atau dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan nervous. Ketika kita gugup atau nervous, kita sering kehilangan kata atau kalimat yang akan kita bicarakan. 

Sehingga seringkali orang yang dihadapkan dengan kamera, berbicara terbata-bata. Mengapa demikian? Salah satu penyebabnya adalah karena tidak siap mental untuk beraksi. Kedua. karena tidak memiliki informasi dan pengetahuan yang cukup tentang apa yang dibicarakan.  Artinya, tidak cukup  bahan untuk dikomunikasikan. Faktor ini sangat mengganggu dan dirasakan oleh hampir semua orang yang tidak menguasai materi pembicaraan. Ketiga, bisa karena kemahiran berbahasa yang kurang.  Orang yang tidak mahir berbicara, maka ia akan kesulitan untuk memberikan penjelasan atau pemahaman kepada orang lain. Keempat, disebabkan oleh faktor tidak biasa. Tidak biasa melakukannya, berarti tidak pernah melatih diri. Karena sesungguhnya semakin sering dilakukan, maka semakin mudah sesuatu bisa dilakukan. Seperti kata pepatah, alah bisa, karena biasa, atau seperti kata orang Inggris the key of learning is practice. Practice makes perfect.

Ke lima, tidak pernah melatih diri. Padahal, kalau kita melakukan latihan yang teratur, maka akan sangat mudah bagi kita, termasuk anak-anak-anak untuk menguasai materi dan melakukan latihan yang teratur. 

Tentu masih banyak faktor lain, baik internal maupun eksternal yang membuat kita tidak bisa acting di depan kamera. Ketika kita tidak atau jarang melatih diri,  kita akan merasa sangat gugup dan bahkan kehilangan ide kala berbicara dengan moncong kamera kepada kita. 

Itulah sebabnya, maka bila kita amati dengan baik video  di atas, kita bisa melihat apa yang sedang diperagakan oleh dua orang anak, Ananda Nayla dan Aqila Azalea Tabrani Yunis . Kebiasaan mereka beraksi di depan kamera atau di bawah sorotan kamera, membuat mereka bisa beraksi dengan leluasa, sambil terus berbicara, tanpa harus memikirkan apa yang akan mereka bicarakan. Mereka yang masih berusia masih sangat dini itu, ya   masih kecil itu , mampu berkomunikasi dengan mudah dan baik. 

Nah, apa yang membuat mereka mampu dab berani atau merasa sangat percaya diri tampil di depan kamera? Tentu saja, karena mereka selama ini terus dimotivasi dan diajak untuk berlatih berbicara di depan umum, sesuai dengan kemampuan dan kemahiran mereka berbicara.  Mereka diberikan kebebasan berekpresi, hingga merasa merdeka berbicara, tanpa ada skenario dari si pengambil foto atau pembuat video.

Jadi, dalam hal membangun kemampuan acting anak-anak di depan kamera atau di ruang publik, diperlukan  kemauan berlatih dalam frekuensi yang lebih sering dilakukan. Tentu banyak cara untuk  membuat anak mampu  beraksi di depan kamera. Salah satu caranya adalah dengan membiasakan anak  berbicara tentang sesuatu, lalu dibuatkan videonya secara terus menerus. Kita bisa melihat bagaimana perkembangan yang terjadi dari rekaman pertama, kedua dan selanjutnya. Tentu  akan selalu mengalami banyak hal yang berkembang. Misalnya, rasa percaya diri akan tumbuh dan membantu anak bisa maju memberikan presentasi dan sebagainya. Tumbuhnya perasan (PD) tersebut karena banyak berlatih. PD atawa percaya diri tidak tumbuh dengan sendirinya, tetapi tumbuh karena sering berlatih. Ingat bahwa PD tidak dapat dibeli, tetapi diperoleh dari melakukan dan melakukan. Ya, do it, do it again. Semakin banyak dilakukan atau  berlatih, maka semakin mudah. Begitu pula dalam hal menyiapkan anak-anak mampu acting di depan kamera. Cobalah amati video tersebut di atas ini.  Selamat mengamati. Jangan lupa berikan mereka apresiasi dan motivasi dengan mengunjungi  Youtube mereka, The best sisters sibling. Berikan likes, comments dan bantu share. Lalu kemudian,  Apa catatan anda?