Aliran sungai ini berhulu di pegunungan yang merupakan gugusan pegunungan di jajaran Taman Nasional Bukit Barisan. Sungai yang kami susuri dari hilir menuju hulu adalah aliran sungai mulai dari wilayah Desa Pertumbuken, hingga wilayah perairan di sekitar bendungan Badigulen, Desa Barusjahe, Kecamatan Barusjahe.
Bendungan itu dinamakan demikian, karena hulu sungai ini berasal dari sumber mata air di Badigulen, Desa Serdang, Kecamatan Barusjahe, Kabupaten Karo. Aliran sungai itu bertemu dengan aliran sungai dari Desa Bawang, Kecamatan Dolok Silau, Kabupaten Simalungun. Kemudian membesar (mungkin oleh sebab itu dinamakan sungai Lau Raja), menjadi aliran sungai Lau Biang, yang akhirnya akan bermuara ke Selat Malaka.
Tidak banyak perbekalan yang kami bawa, karena hari itu memang kami berencana hidup dengan memungut apa yang disediakan oleh alam. Dan tentu saja, tidak meninggalkan sampah di sungai, di sekitar bantarannya, dan di sekitar persawahan yang terbentang di sepanjang aliran sungai. Sebagian sawah memang sudah ada yang terbengkalai, entah karena apa.
Kami hanya membawa bekal nasi putih secukupnya. Hehe, pastinya nasi putih yang banyak dong, karena kami akan makan siang di tepi aliran sungai, dengan lauk ikan bakar hasil tangkapan, dan beberapa potong daging. Selain itu kami membawa satu kantongan kresek tomat segar, cabai segenggaman tangan, bawang beberapa siung, segenggam kacang tanah mentah, dan garam dapur secukupnya.
Bahan-bahan itu, rencananya akan dimasak menjadi sambal, menemani lauk ikan bakar hasil tangkapan dan beberapa potong daging panggang. Juga menjadi sambal untuk lalapan daun pakis air (kami menyebutnya paku-paku), yang direbus di dalam ruas bambu.
Kami menyiapkan makan siang, setelah lebih kurang 2 jam menjalani rute sepanjang aliran sungai sejauh 4 kilometer. Kami beristirahat di tepi aliran sungai.
Saat itu kami sudah ada menangkap puluhan ekor ikan, dengan jala (jaring) yang dilempar oleh tiga orang "ranger" dari Desa Serdang. Mereka memang sudah terbiasa menjala ikan di sepanjang aliran sungai ini. Ikan-ikan itu dikenal oleh masyarakat lokal dengan nama nurung mbentar, nurung mbiring, dengke atau jurung.
Setiap orang makan dengan lahap, sambil menikmati kicauan burung, dan kera-kera yang menatap dari kejauhan. Setelah makan siang, perjalanan kami lanjutkan sekitar 5 kilometer lagi menuju ke arah hulu, wilayah aliran sungai di sekitar bendungan Badigulen.
Apa yang tersaji dalam pemandangan selama perjalanan dan menyaksikan keahlian orang-orang setempat memanfaatkan hal-hal yang bisa dipanen dari alam, memang menanamkan sebuah rasa bahwa akan sangat disayangkan bila kita harus kehilangan kesempatan melanjutkan hidup di alam yang lestari dan berkelimpahan. Menjala dan memancinglah secukupnya.
Hindari menangkap ikan dengan memakai racun, jangan juga menggukanan setrum. Hal itu tidak saja akan membunuh ikan yang kita inginkan, tapi juga benih-benih ikan yang sebenarnya menjadi cikal bakal kelanjutan ekosistem sungai selanjutnya.
Wariskanlah kebaikan kepada generasi yang akan datang. Salam lestari.