Widodo Antonius
Widodo Antonius Guru

Hobi membaca menulis dan bermain musik

Selanjutnya

Tutup

Video

Video Hiburan: "Waktu Itu Ada Masanya"

10 Januari 2026   07:15 Diperbarui: 9 Januari 2026   09:55 191 20 5

Foto keponakan sedang bermain di sebuah mall. Sumber Dokumentasi Pribadi 
Foto keponakan sedang bermain di sebuah mall. Sumber Dokumentasi Pribadi 


Video Hiburan: 

"Waktu Itu Ada Masanya"

Oleh: Widodo, S.Pd

Waktu itu ada masanya. Kalimat sederhana ini sering terucap ketika saya mengenang masa kecil. Dahulu, hiburan kami sangat sederhana namun penuh makna. Saya bermain mobil-mobilan dari kulit jeruk keprok atau jeruk gulung Bali buatan ayah. Ada pula kuda lumping dari tangkai gedebok pisang. Permainan gobak sodor, semutan, dan petak umpet menjadi hiburan favorit yang melibatkan banyak teman dan tawa lepas. Rasanya seru banget.

Sayangnya, pada masa itu belum ada alat perekam seperti sekarang. Tidak ada video, tidak ada dokumentasi digital. Semua kenangan tersimpan rapi dalam ingatan dan cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut. Kini, kenangan itu tinggal cerita---namun nilainya tetap hidup.

Masuk ke era generasi alfa, hiburan anak-anak mengalami perubahan besar. Video hiburan menjadi bagian dari keseharian anak dan keponakan saya. Dengan satu sentuhan jari, mereka dapat menikmati tayangan kartun, animasi edukatif, hingga video kreatif yang penuh warna dan suara. Bisa dikatakan, hiburan masa kini jauh lebih praktis dan menarik secara visual.

Namun, seperti halnya masa kecil saya dulu, hiburan generasi alfa pun kelak akan dikenang dengan kalimat yang sama: "Waktu itu ada masanya." Video yang hari ini ditonton dengan penuh antusias, suatu saat akan menjadi kenangan masa kecil mereka.

Sebagai orang tua dan pendidik, saya memandang pentingnya keseimbangan dalam dunia hiburan anak. Hiburan digital memang tidak bisa dihindari, tetapi jangan sampai menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan. Terlalu dominan menggunakan gawai dapat membuat anak kurang bergerak, lebih individual, dan berkurang interaksi sosialnya.

Di sinilah peran orang tua sangat dibutuhkan. Orang tua perlu memberikan arahan yang bijak: kapan anak boleh menonton video hiburan, kapan harus bermain di luar, bergerak, dan berinteraksi langsung dengan teman atau keluarga. Bermain tradisional, olahraga ringan, atau permainan kreatif sederhana tetap perlu diperkenalkan agar anak merasakan kebahagiaan yang utuh.

Pada akhirnya, hiburan---baik dahulu maupun kini---memiliki tujuan yang sama, yaitu menghadirkan rasa bahagia. Tugas kitalah sebagai orang dewasa untuk memastikan bahwa kebahagiaan itu tumbuh secara seimbang, sehat, dan bermakna. Agar anak-anak generasi alfa kelak dapat mengenang masa kecil mereka dengan senyum, seperti kita mengenang masa lalu dengan penuh rasa syukur.