Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Omjay merenungkan perjalanan hidup, memohon ampun atas kelalaian, serta menata kembali tujuan yang mungkin sempat bergeser karena ambisi dan rutinitas, sehingga Omjay menyadari bahwa ketenangan sejati tidak pernah datang dari jumlah pengikut atau banyaknya komentar, melainkan dari kedekatan dengan Sang Pencipta.
Ramadan akhirnya menjadi laboratorium spiritual bagi Omjay untuk menguji dirinya sendiri, apakah Omjay mampu menahan diri dari distraksi digital sebagaimana Omjay menahan lapar dan dahaga.
Omjay bertanya dalam hati. Apakah sanggup menurunkan intensitas pamer dan menaikkan intensitas syukur, serta apakah bisa menjadikan teknologi sebagai sarana ibadah dan edukasi.
Teknologi digunakan bukan sekadar panggung pencitraan, karena Omjay percaya bahwa guru di era digital harus menjadi teladan dalam menggunakan teknologi secara bijak, bukan sekadar menjadi pengguna yang larut dalam arus.
Melalui pengalaman Ramadan dan digital detox ini, Omjay ingin mengajak para guru, penulis, dan siapa pun yang hidup di era serba digital untuk berani mengambil jeda, mengurangi satu jam scrolling dan menambah satu halaman tilawah.
Mulai mengurangi satu unggahan yang tidak perlu dan menambah satu sedekah yang diam-diam, serta mengurangi satu komentar yang menyulut perdebatan dan menambah satu doa untuk sesama, sebab perubahan besar sering kali dimulai dari langkah kecil yang konsisten.
Pada akhirnya, Ramadan bukan tentang meninggalkan teknologi sepenuhnya, karena dunia digital sudah menjadi bagian dari kehidupan modern, melainkan tentang menata ulang prioritas agar hati tidak dikendalikan oleh algoritma.
Menata agar waktu tidak habis oleh notifikasi, dan agar jiwa tetap memiliki ruang untuk hening, sebab yang akan kita bawa pulang setelah Ramadan berlalu bukanlah jumlah likes, viewers, atau followers, melainkan kualitas keikhlasan, kedalaman refleksi, dan amal yang benar-benar lahir dari hati yang bersih.
Demikianlah kisah Omjay tentang Ramadan dan Digital Detox yang menjadi tema ramadhan bercerita hari ini. Semoga bermanfaat buat pembaca kompasiana tercinta. Kecelakaan mobil beruntun di tol Cikampek menyadarkan Omjay bahwa hidup manusia hanyalah sementara dan akan ada hidup setelah mati.
Salam Blogger Persahabatan