Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Kisah Omjay kali ini tentang Indonesia Bicara Pendidikan di Forum Internasional: Investasi Masa Depan yang Tak Bisa Ditunda. Ibu ketua Umum PB PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd membagikan kegiatannya di Bangkok Thailand di WA Group Pengurus PGRI Serentak yang selalu ramai dan dinamis.
Suasana ruang konferensi tampak serius namun penuh harapan. Empat narasumber duduk di atas panggung, membahas satu tema besar: masa depan pendidikan Indonesia. Di layar besar terpampang judul "Investing in the Future: Indonesia's Path to Sustainable Education Financing" sebuah penegasan bahwa pendidikan bukan sekadar kewajiban negara, tetapi investasi jangka panjang bagi kemajuan bangsa.
Dalam forum ini, disampaikan bahwa Indonesia telah memiliki fondasi kuat melalui amanat konstitusi yang mengalokasikan 20% anggaran untuk pendidikan. Komitmen ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang serius dalam mendanai sektor pendidikan. Bahkan, secara global, langkah ini dipandang sebagai bentuk kepemimpinan dalam memastikan akses pendidikan yang merata.
Namun, di balik komitmen tersebut, tantangan besar masih membayangi. Data yang ditampilkan cukup mencengangkan. Sekitar 60% ruang kelas di tingkat sekolah dasar mengalami kerusakan, dari kategori sedang hingga berat. Hal ini tentu berdampak langsung pada kenyamanan dan kualitas proses belajar mengajar.
Tak hanya itu, dunia pendidikan juga menghadapi kekurangan jutaan guru secara global, sementara di Indonesia sendiri, banyak guru menghadapi keterlambatan sertifikasi. Bahkan, sekitar 35% guru mengalami keterlambatan dalam proses sertifikasi, yang berimbas pada kesejahteraan dan motivasi mereka. Perlu adanya undang-undang perlindungan guru seperti video di bawah ini.
Kondisi ini diperparah dengan adanya fragmentasi dalam pendanaan pendidikan di tingkat daerah, yang membuat implementasi kebijakan sering kali tidak merata. Lingkungan belajar di perkotaan pun semakin padat, menambah beban dalam menciptakan suasana belajar yang ideal.
Namun, harapan tetap menyala. Dalam sesi tersebut, perwakilan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) memaparkan dampak nyata dari advokasi yang telah dilakukan. Hingga kini, tercatat 869.000 guru baru telah direkrut, sebuah angka yang menunjukkan keseriusan dalam mengatasi kekurangan tenaga pendidik.
PGRI juga menekankan pentingnya dialog sosial yang kuat antara pemerintah, guru, dan pemangku kepentingan lainnya. Melalui pendekatan ini, kebijakan pendidikan diharapkan lebih tepat sasaran dan berbasis kebutuhan nyata di lapangan.
Untuk membangun masa depan pendidikan yang tangguh, forum ini menyoroti tiga pilar utama: