Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
https://youtube.com/shorts/A8HcH9bh3oM?si=3O6BWj3P_luBxSYx
Tanggalkan Baju Kesombonganmu, Wahai Admin Kompasiana. Inilah kisah Omjay, Guru Blogger Indonesia di kompasiana tercinta.
Menulis sejatinya adalah pekerjaan hati. Menulis lahir dari kegelisahan, tumbuh dari pengalaman, lalu hidup melalui ketulusan. Karena itu, dunia literasi seharusnya menjadi rumah yang hangat bagi siapa saja yang ingin berbagi pikiran dan perasaan. Bukan tempat yang dipenuhi sekat-sekat kesombongan, apalagi ruang yang membuat penulis kecil merasa tidak dihargai.

Kompasiana selama ini dikenal sebagai rumah besar para penulis rakyat. Banyak orang biasa yang menemukan keberanian menulis karena adanya platform tersebut. Guru, buruh, mahasiswa, ibu rumah tangga, pensiunan, hingga pelajar pernah merasa memiliki panggung untuk menyampaikan suara mereka. Dari sanalah lahir ribuan tulisan yang menginspirasi bangsa.
Namun, di balik kebesaran itu, terkadang muncul luka-luka kecil yang diam-diam dirasakan para penulis. Ada tulisan yang ditolak tanpa penjelasan yang manusiawi. Ada penulis yang merasa diabaikan. Ada pula komentar atau perlakuan yang terasa merendahkan karya orang lain. Di titik itulah, hati kecil ini ingin berkata:
"Tanggalkan baju kesombonganmu, wahai admin Kompasiana."
Kalimat ini bukanlah ungkapan kebencian. Bukan pula serangan. Ini adalah kritik penuh cinta dari seorang penulis yang ingin Kompasiana tetap menjadi rumah nyaman bagi semua orang.
Kesombongan sering hadir tanpa disadari. Sombong bisa muncul dalam bentuk merasa paling benar, merasa paling pintar, atau merasa paling berhak menentukan siapa yang layak disebut penulis hebat. Padahal, di balik tulisan sederhana seseorang, mungkin ada perjuangan hidup yang luar biasa.
Seorang guru di pelosok menulis dengan ponsel murah sambil menunggu muridnya pulang sekolah. Seorang ibu rumah tangga menulis di sela mencuci pakaian. Seorang ayah menulis setelah lelah bekerja seharian demi menghidupi keluarga. Mereka bukan penulis profesional. Mereka hanya manusia biasa yang ingin suaranya didengar.
https://youtube.com/shorts/A8HcH9bh3oM?si=3O6BWj3P_luBxSYx