Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Mengambil Pelajaran dari Film Pesta Babi

24 Mei 2026   12:06 Diperbarui: 24 Mei 2026   12:06 110 3 4

https://youtu.be/MpdrWgDRVf8?si=yRVpDjNDBP1WpwPT

Kisah Omjay kali ini tentang Film Pesta Babi di Papua dan Jeritan Rakyat yang Terpinggirkan. Semoga bermanfaat buat sobat pembaca Kompasiana tercinta.

Omjay Guru blogger Indonesia/dokpri
Omjay Guru blogger Indonesia/dokpri

Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita membuka mata banyak orang tentang kenyataan pahit yang dialami masyarakat adat di Papua Selatan. 

Film karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale itu bukan sekadar tontonan biasa. Ia menjadi suara bagi rakyat kecil yang selama ini merasa tidak didengar di tanahnya sendiri.

Di balik gemerlap istilah pembangunan dan Proyek Strategis Nasional (PSN), tersimpan luka mendalam masyarakat adat Papua. Hutan dibuka, tanah ulayat diambil, dan ruang hidup perlahan menghilang. 

Pemerintah menyebutnya pembangunan demi ketahanan pangan nasional. Namun bagi banyak warga Papua, pembangunan itu terasa seperti badai besar yang datang tanpa meminta izin kepada pemilik tanah adat.

Film itu memperlihatkan kehidupan suku Marind, Awyu, Yei, dan Muyu yang selama turun-temurun hidup berdampingan dengan alam. Hutan bukan sekadar kumpulan pohon bagi mereka. 

Hutan adalah ibu yang memberi makan, sungai adalah sumber kehidupan, dan tanah adalah warisan leluhur yang sakral. Ketika alat berat masuk dan pohon-pohon tumbang, yang hilang bukan hanya lingkungan, tetapi juga identitas dan masa depan mereka.

Ironisnya, rakyat Papua sering kali hanya menjadi penonton di tanah sendiri. Kapal-kapal besar datang membawa ekskavator dan alat berat. Perusahaan-perusahaan raksasa masuk dengan izin negara. 

Namun masyarakat adat merasa suara mereka tidak benar-benar dilibatkan. Mereka melihat pembangunan berjalan cepat, tetapi kesejahteraan yang dijanjikan belum sepenuhnya mereka rasakan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3