Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Mengambil Pelajaran dari Film Pesta Babi

24 Mei 2026   12:06 Diperbarui: 24 Mei 2026   12:06 123 6 5

Banyak orang mungkin bertanya, mengapa judulnya "Pesta Babi"? Dalam budaya Papua, pesta babi adalah tradisi sakral yang melambangkan persaudaraan, syukur, dan kebersamaan. 

Namun dalam film ini, istilah itu menjadi metafora yang menyakitkan. Seolah ada pesta besar yang dinikmati para pemilik modal dan kekuasaan, sementara masyarakat adat hanya menerima sisa penderitaan dan kehilangan.

Yang membuat hati semakin sedih adalah munculnya berbagai cerita tentang intimidasi terhadap pemutaran film tersebut. Beberapa acara nonton bareng dibubarkan dengan alasan keamanan. 

Akibatnya, banyak orang merasa ruang diskusi dan kritik terhadap pembangunan menjadi semakin sempit.

Padahal kritik tidak selalu berarti menolak pembangunan. Banyak masyarakat Papua sebenarnya tidak anti kemajuan. Mereka juga ingin jalan bagus, sekolah layak, rumah sakit memadai, dan kehidupan yang lebih baik. 

Namun mereka ingin pembangunan yang manusiawi. Pembangunan yang menghormati hak adat, menjaga lingkungan, dan melibatkan rakyat sebagai subjek, bukan sekadar objek pembangunan.

Pemerintah dan sejumlah pihak memang menegaskan bahwa proyek food estate di Wanam bertujuan memperkuat ketahanan pangan nasional dan membuka lapangan pekerjaan. 

Mereka juga menyebut tidak semua lokasi dalam film berkaitan langsung dengan PSN tersebut.  Namun perdebatan ini justru menunjukkan bahwa ada jurang besar antara narasi pembangunan dari pusat dengan kenyataan yang dirasakan sebagian masyarakat di lapangan.

Papua bukan tanah kosong. Papua memiliki manusia, budaya, sejarah, dan martabat yang harus dihormati. Ketika pembangunan hanya diukur dari jumlah hektare lahan yang dibuka atau angka investasi yang masuk, maka ada sisi kemanusiaan yang perlahan hilang. 

Alam Papua mungkin kaya, tetapi rakyatnya tidak boleh terus merasa miskin di tanah sendiri. Kita harus membantu rakyat Papua mendapatkan haknya yang telah diwariskan dari para leluhurnya.

Kita harus belajar bahwa pembangunan sejati bukan sekadar membangun infrastruktur besar. Pembangunan sejati adalah ketika rakyat merasa aman, dihargai, dan dilibatkan. Ketika anak-anak Papua tetap bisa melihat hutan leluhurnya berdiri tegak. Ketika masyarakat adat tidak kehilangan identitas demi proyek yang katanya untuk masa depan bangsa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3