Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Benarkan Pendidikan Adalah Pembodohan?

9 Juni 2026   12:13 Diperbarui: 9 Juni 2026   12:13 102 4 2

Benarkah pendidikan adalah pembodohan?/chatgpt
Benarkah pendidikan adalah pembodohan?/chatgpt

Kisah Omjay kali ini tentang menjawab pertanyaan seorang kawan alumni FPTK IKIP Jakarta. Benarkah Pendidikan Adalah Pembodohan? Sebuah Renungan dari Kisah Omjay yang dituliskan oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) danGuru Blogger Indonesia untuk kompasiana tercinta.

Ketika pertama kali mendengar kalimat "Pendidikan adalah pembodohan", hati saya terusik. Sebagai seorang guru yang telah mengabdi lebih dari 30 tahun di SMP Labschool Jakarta, saya merasa kalimat itu sangat menyakitkan. Bukankah pendidikan bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa? Bukankah sekolah menjadi tempat lahirnya generasi masa depan?

Namun, setelah merenung lebih dalam dan melihat berbagai kenyataan di lapangan, saya mulai memahami mengapa sebagian orang berani mengatakan bahwa pendidikan bisa menjadi alat pembodohan apabila dijalankan dengan cara yang salah.

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan dunia pendidikan, melainkan sebagai bahan refleksi agar kita semua kembali kepada hakikat pendidikan yang sesungguhnya.

Ketika Murid Hanya Diajarkan Menghafal

Saya masih ingat ketika menjadi siswa sekolah dasar. Guru sering memberikan tugas menghafal. Menghafal nama pahlawan. Menghafal rumus. Menghafal tanggal sejarah. Menghafal definisi. Semakin banyak hafalan, semakin dianggap pintar.

Ironisnya, setelah ujian selesai, sebagian besar hafalan itu hilang begitu saja. Banyak siswa memperoleh nilai tinggi, tetapi tidak memahami makna dari apa yang dipelajari. Mereka lulus ujian, tetapi tidak mampu memecahkan masalah kehidupan nyata.

Di sinilah pendidikan mulai kehilangan ruhnya. Pendidikan yang hanya berorientasi pada hafalan sesungguhnya sedang membatasi kemampuan berpikir manusia.

  • Anak tidak diajak bertanya.
  • Anak tidak diajak berpikir kritis.
  • Anak tidak diajak menemukan.

Mereka hanya diminta menerima. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, bukankah itu bentuk pembodohan yang halus?

https://youtu.be/MGYukPhVPDs

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5