Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
https://youtube.com/shorts/GixGn8HMRsk?si=HACizhz3z5L1qXon
Kisah Omjay: Di Era AI, Buku Tetap Menjadi Jembatan Ilmu dan Sumber Rezeki
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi." Kalimat sederhana itu telah menemani perjalanan hidup saya selama puluhan tahun. Awalnya saya menulis hanya untuk mengabadikan pengalaman sebagai guru. Saya tidak pernah membayangkan bahwa ribuan tulisan yang saya unggah di blog, media sosial, dan berbagai platform digital akan mengantarkan saya menjadi penulis puluhan buku, narasumber di berbagai webinar, sekaligus bertemu dengan begitu banyak sahabat literasi dari seluruh Indonesia.
Kini dunia telah berubah. Kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mengubah hampir semua aspek kehidupan, termasuk cara orang membaca, menulis, belajar, dan membeli buku. Banyak orang bertanya kepada saya, "Omjay, apakah buku masih laku di era AI? Bukankah semua informasi bisa dicari dalam hitungan detik?"
Saya selalu menjawab dengan senyum. Justru di era AI, kesempatan menjual buku semakin besar. Yang berubah bukan kebutuhan manusia terhadap buku, melainkan cara kita memperkenalkan buku kepada pembaca.
AI mampu menyajikan informasi dengan cepat, tetapi AI tidak memiliki pengalaman hidup yang kita alami. AI tidak pernah merasakan degup jantung seorang guru saat mengajar muridnya. AI tidak pernah merasakan haru ketika melihat peserta pelatihan berhasil menerbitkan buku pertamanya. AI juga tidak memiliki kenangan saat menemani keluarga melewati masa-masa sulit. Semua pengalaman itu hanya dimiliki manusia, dan pengalaman itulah yang membuat sebuah buku memiliki jiwa.

Saya bersyukur karena sejak awal memilih jalan sebagai guru sekaligus penulis. Menulis telah menjadi bagian dari kehidupan saya. Ketika banyak orang masih ragu memanfaatkan AI, saya justru mengajaknya menjadi sahabat berkarya. Saya menggunakan AI untuk membantu menyusun ide, merancang promosi, membuat poster, menyiapkan naskah presentasi, hingga mengembangkan materi pelatihan. Namun, isi buku tetap lahir dari pengalaman, refleksi, dan ketulusan hati.
Saya percaya bahwa teknologi tidak pernah menggantikan hati manusia. Teknologi hanya mempercepat proses. Karena itu saya tidak pernah takut dengan AI. Saya justru merasa memiliki seorang asisten yang selalu siap membantu kapan saja.
Perjalanan menjual buku juga mengalami perubahan yang sangat besar. Dahulu penulis harus menunggu pameran buku atau menitipkan buku di toko buku. Kini semuanya bisa dilakukan dari rumah. Cukup dengan telepon genggam, saya dapat memperkenalkan buku kepada ribuan orang melalui blog, Facebook, Instagram, TikTok, YouTube, WhatsApp, dan webinar.
Setiap pagi saya berusaha membagikan tulisan yang memberi manfaat. Saya tidak langsung menawarkan buku. Saya lebih memilih berbagi pengalaman, memberikan solusi, atau menyampaikan inspirasi. Ketika pembaca merasakan manfaat dari tulisan itu, mereka akan bertanya sendiri, "Apakah Omjay punya buku tentang tema ini?" Saat itulah promosi terjadi secara alami, tanpa terasa memaksa.
Inilah pelajaran paling berharga yang saya peroleh. Jangan menjual bukunya terlebih dahulu, tetapi berikan manfaatnya terlebih dahulu. Ketika manfaat dirasakan, buku akan dicari.
Saya juga belajar bahwa pembaca memiliki kebiasaan yang berbeda-beda. Sebagian masih sangat mencintai buku cetak. Mereka menikmati aroma kertas, suara halaman yang dibalik, dan sensasi memberi tanda pada bagian yang penting. Sebagian lainnya lebih memilih buku digital karena praktis, ringan, dan bisa dibaca kapan saja melalui ponsel.
Karena itu saya selalu menerbitkan buku dalam dua bentuk. Buku cetak untuk mereka yang ingin memiliki koleksi fisik, sedangkan buku digital untuk pembaca yang mengutamakan kepraktisan. Keduanya saling melengkapi, bukan saling menggantikan.
AI juga membantu saya membuat promosi yang lebih menarik. Dalam beberapa menit saya dapat menghasilkan puluhan ide judul artikel, naskah video pendek, caption media sosial, bahkan pertanyaan yang sering diajukan calon pembeli. Semua itu mempercepat pekerjaan saya sehingga lebih banyak waktu digunakan untuk menulis buku baru.
Saya sering mengatakan kepada peserta webinar bahwa AI bukan lawan penulis. AI adalah kendaraan. Penulislah pengemudinya. Kendaraan secanggih apa pun tidak akan sampai ke tujuan jika tidak ada pengemudi yang menentukan arah.
Di setiap webinar yang saya bawakan, saya selalu membawa buku-buku karya sendiri. Saya menceritakan proses penulisannya, tantangan yang dihadapi, dan manfaat yang bisa diperoleh pembaca. Banyak peserta akhirnya membeli bukan karena merasa dipaksa, melainkan karena mereka percaya pada pengalaman yang saya bagikan.
Kepercayaan memang menjadi modal terbesar dalam menjual buku. Pembaca membeli karena percaya bahwa isi buku akan memberikan manfaat nyata. Oleh sebab itu, saya selalu berusaha menjaga kualitas tulisan dan terus belajar agar setiap buku benar-benar memberikan nilai tambah.
Sebagai Guru Blogger Indonesia, saya merasakan sendiri bagaimana sebuah artikel dapat menjadi pintu masuk menuju penjualan buku. Ribuan pembaca mengenal saya bukan karena iklan, melainkan karena tulisan yang saya bagikan secara konsisten selama bertahun-tahun. Menulis setiap hari ternyata bukan hanya membangun kebiasaan, tetapi juga membangun kepercayaan.
Saya juga mengajak para guru untuk tidak ragu menulis buku. Setiap guru memiliki pengalaman yang tidak dimiliki orang lain. Setiap kelas menyimpan kisah inspiratif. Setiap murid meninggalkan pelajaran kehidupan. Semua itu dapat menjadi buku yang bermanfaat bagi banyak orang.
Jangan menunggu sempurna untuk mulai menulis. Mulailah menulis, lalu biarkan tulisan itu terus disempurnakan. Jangan takut menggunakan AI. Gunakanlah dengan bijak sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti kreativitas. Buku terbaik tetap lahir dari hati yang jujur, pikiran yang terbuka, dan pengalaman yang nyata.
Saya bermimpi semakin banyak guru Indonesia menjadi penulis. Saya ingin melihat perpustakaan dipenuhi karya para pendidik. Saya ingin murid-murid bangga karena gurunya bukan hanya mengajar, tetapi juga menghasilkan buku yang menginspirasi.
Bagi saya, menjual buku bukan sekadar mencari keuntungan. Menjual buku berarti menyebarkan ilmu. Setiap buku yang berpindah ke tangan pembaca membawa harapan baru. Mungkin ada seorang guru yang menemukan metode mengajar yang lebih baik. Mungkin ada seorang mahasiswa yang termotivasi menyelesaikan skripsinya. Mungkin ada seorang penulis pemula yang akhirnya berani menerbitkan karya pertamanya.
Itulah rezeki terbesar seorang penulis.
Karena itu saya tidak pernah malu menawarkan buku karya sendiri. Saya yakin bahwa jika buku tersebut memberikan manfaat, maka memperkenalkannya kepada masyarakat merupakan bagian dari ibadah menyebarkan ilmu.
Sahabatku, jangan biarkan naskah Anda hanya tersimpan di komputer atau telepon genggam. Terbitkanlah. Perkenalkan kepada dunia. Gunakan AI untuk membantu promosi, tetapi tetaplah menulis dengan hati. Jadikan setiap tulisan sebagai amal jariyah yang terus mengalir manfaatnya.
Mari kita buktikan bahwa di era AI, buku tetap memiliki tempat istimewa di hati pembaca. Teknologi boleh berubah, tetapi kebutuhan manusia akan inspirasi, pengalaman, dan kebijaksanaan tidak akan pernah hilang. Selama masih ada orang yang ingin belajar, selama masih ada guru yang ingin berbagi, dan selama masih ada penulis yang menulis dengan hati, buku akan selalu hidup.
Apabila Anda ingin memiliki buku-buku karya Omjay dalam format cetak maupun digital, atau ingin belajar menulis, menerbitkan, dan memasarkan buku di era AI, silakan menghubungi WhatsApp 08159155515. Mari bersama-sama membangun budaya literasi Indonesia. Sebab saya percaya, satu buku yang dibaca dapat mengubah satu kehidupan, dan satu buku yang ditulis dengan hati dapat menginspirasi sebuah generasi.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com