Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Satupena dan Kepemimpinan Denny JA

10 Juli 2026   10:35 Diperbarui: 11 Juli 2026   05:55 301 10 3

AI tidak pernah merasakan bagaimana seorang guru harus mengajar sejak pagi, kemudian merawat istri yang sedang sakit stroke, lalu malam harinya masih membuka laptop untuk menulis.

AI tidak pernah merasakan bagaimana seorang ayah meneteskan air mata ketika anaknya berhasil lulus kuliah.

AI tidak pernah merasakan bagaimana seorang guru merasa bangga ketika muridnya sukses. Semua pengalaman itulah yang menjadi ruh sebuah tulisan.

Oleh Karena itulah saya percaya bahwa organisasi penulis justru semakin penting di era AI. Yang dibutuhkan bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi, tetapi kemampuan menjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap karya.

Di SATUPENA saya melihat usaha itu dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Diskusi demi diskusi diselenggarakan secara rutin. Penulis dari berbagai daerah saling bertukar pikiran. Tidak ada batas geografis. Semua dipertemukan oleh teknologi.

Sebagai guru informatika, saya sangat menikmati perubahan ini. Dahulu, ketika internet belum berkembang seperti sekarang, sebuah seminar nasional membutuhkan biaya besar. Hari ini, cukup membuka Zoom, kita sudah dapat belajar dari tokoh-tokoh terbaik Indonesia.

Saya sering mengikuti diskusi SATUPENA sambil berada di rumah. Kadang setelah selesai mengajar. Kadang setelah menemani istri berobat. Kadang bahkan dari perjalanan. Teknologi benar-benar menghadirkan kesempatan belajar yang luar biasa.

Hal yang membuat saya semakin bahagia adalah budaya kolaborasi yang tumbuh di SATUPENA.

Saya melihat para penulis tidak hanya berkumpul untuk berbicara. Mereka berkumpul untuk menghasilkan karya.

Ada buku bersama. Ada diskusi bersama. Ada penghargaan kepada penulis. Ada dokumentasi perjalanan para tokoh.

Semua itu adalah investasi kebudayaan yang nilainya tidak bisa diukur dengan uang.

Saya teringat motto hidup yang selalu saya sampaikan kepada peserta KBMN.

"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."

Motto itu ternyata sejalan dengan semangat SATUPENA.

Organisasi ini bukan sekadar tempat berkumpul. Organisasi ini mendorong anggotanya terus menulis, terus berpikir, dan terus menghasilkan karya.

Saya juga belajar banyak dari kepemimpinan Denny JA.

Beliau tidak hanya berbicara tentang pentingnya AI, tetapi juga mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat. Yang paling penting tetap manusianya.

Sebagai guru informatika, saya sering menjelaskan kepada murid-murid bahwa AI adalah asisten yang hebat, tetapi bukan pengganti hati manusia.

Tulisan yang lahir dari pengalaman hidup akan selalu memiliki energi yang berbeda.

Itulah sebabnya saya tetap mengajak para guru di seluruh Indonesia untuk menulis berdasarkan pengalaman mereka sendiri.

Pengalaman mengajar.

Pengalaman mendidik.

Pengalaman gagal.

Pengalaman berhasil.

Pengalaman hidup.

Semua itu tidak dapat dipalsukan.

Di SATUPENA saya melihat nilai tersebut dijaga.

Saya juga merasa bahagia karena organisasi ini membuka ruang bagi siapa saja untuk berkembang. Tidak ada kesan eksklusif. Justru yang terasa adalah semangat saling mendukung.

Sebagai orang yang aktif membimbing ribuan guru melalui KBMN, saya memahami betapa pentingnya lingkungan yang mendukung.

Banyak orang sebenarnya ingin menulis, tetapi takut memulai.

Banyak orang memiliki pengalaman luar biasa, tetapi tidak percaya diri menuangkannya ke dalam tulisan.

Di sinilah organisasi seperti SATUPENA mempunyai peran besar.

Ia menjadi rumah belajar.

Rumah berbagi.

Rumah bertumbuh.

Saya berharap semakin banyak guru Indonesia bergabung dengan komunitas penulis. Guru adalah saksi perubahan zaman. Setiap hari guru bertemu generasi baru. Pengalaman mereka sangat berharga jika dituliskan.

Saya membayangkan apabila setiap guru menulis satu artikel setiap minggu, betapa kayanya khazanah literasi Indonesia.

Kita tidak akan kekurangan inspirasi.

Kita tidak akan kekurangan cerita.

Kita tidak akan kehilangan jejak sejarah pendidikan bangsa.

AI dapat membantu mempercepat proses menulis, tetapi ide, pengalaman, kejujuran, dan kebijaksanaan tetap harus datang dari manusia.

Karena itu saya tidak takut dengan AI.

Saya justru mengajak para guru memanfaatkannya secara bijak.

Gunakan AI sebagai teman berdiskusi.

Gunakan AI untuk mempercepat pekerjaan teknis.

Namun jangan pernah menyerahkan hati kita kepada mesin.

Biarkan AI membantu tangan kita.

Tetapi biarkan hati tetap memimpin tulisan kita.

Setelah membaca refleksi Denny JA, saya semakin yakin bahwa masa depan organisasi penulis memang sedang berubah. Organisasi yang bertahan bukan yang memiliki kantor paling megah, melainkan yang mampu menjaga percakapan intelektual tetap hidup.

SATUPENA telah membuktikan bahwa teknologi dapat menjadi jembatan yang mempertemukan para penulis dari seluruh Indonesia. Perbedaan daerah, profesi, usia, bahkan latar belakang bukan lagi penghalang untuk saling belajar.

Saya merasa beruntung menjadi bagian dari perjalanan itu.

Bagi saya, bergabung di SATUPENA bukan sekadar menjadi anggota sebuah organisasi.

Saya merasa menjadi bagian dari gerakan literasi yang lebih besar.

Gerakan yang percaya bahwa tulisan mampu mengubah kehidupan.

Gerakan yang percaya bahwa ilmu harus dibagikan.

Gerakan yang percaya bahwa penulis bukan hanya pencipta kata-kata, tetapi juga penjaga nurani bangsa.

Semoga SATUPENA terus menjadi rumah yang hangat bagi para penulis Indonesia.

Semoga percakapan yang tidak pernah berhenti itu terus melahirkan ide-ide baru, karya-karya terbaik, dan generasi penulis yang mampu menjawab tantangan zaman.

Dan saya akan terus memegang motto yang selama ini mengiringi perjalanan hidup saya:

"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."

Sebab, selama pena masih bergerak, harapan akan selalu menemukan jalannya.

Salam blogger persahabatan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3