Kebaikan tentang aku beritahu kepada oranglain, keburukan ku bisikkan ke telinga ku, pertanda hidup kita manusia yang ingin maju. Salam Maflindo Butar Butar

Dalam banyak komunitas di Papua, lukisan tubuh dan ornamen pakaian adat memiliki arti yang spesifik. Setiap motif dapat merepresentasikan asal-usul, status sosial, ritus tertentu, atau hubungan spiritual dengan alam dan leluhur. Tubuh menjadi kanvas, sementara seni berfungsi sebagai media transmisi pengetahuan. Nilai-nilai tidak diajarkan melalui teks atau institusi formal, melainkan dihayati melalui praktik budaya yang hidup.
Namun, perubahan zaman membawa tekanan tersendiri. Modernisasi, globalisasi, dan arus visual digital menjadikan seni tradisi mudah terlepas dari konteksnya. Motif yang dahulu lahir dari pengalaman sosial dan spiritual kini berisiko dipahami hanya sebagai dekorasi. Ketika seni lukis tubuh Papua dipisahkan dari maknanya dan direduksi menjadi ornamen umum, yang hilang bukan hanya nilai budaya, melainkan sistem pengetahuan yang menyertainya.
Tantangan ini semakin terasa ketika seni tradisi masuk ke ruang publik yang lebih luas, baik melalui pariwisata, media sosial, maupun industri kreatif. Eksposur memang membuka peluang pengenalan budaya Papua kepada dunia luar. Namun, tanpa kerangka perlindungan yang memadai, seni mudah berubah menjadi komoditas. Ia dinikmati sebagai objek visual, bukan sebagai ekspresi hidup komunitas yang melahirkannya.
Pelestarian seni lukis tubuh Papua tidak dapat diserahkan semata-mata pada agenda seremonial, festival, atau pertunjukan sesaat. Yang lebih penting adalah memastikan ekosistem budaya tetap terjaga. Artinya, masyarakat adat harus memiliki ruang untuk terus menjalankan tradisi sesuai dengan logika dan nilai mereka sendiri. Seni tradisi hanya akan bertahan jika ia tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar tontonan.
Dalam konteks ini, peran negara dan pemerintah daerah menjadi signifikan. Perlindungan kebudayaan tidak cukup berhenti pada pengakuan simbolik. Dibutuhkan kebijakan yang memberi ruang pada pendidikan berbasis budaya, pengakuan atas hak kekayaan intelektual komunal, serta pelibatan masyarakat adat sebagai subjek utama dalam pengelolaan kebudayaan. Tanpa itu, upaya pelestarian mudah kehilangan arah.
Seni lukis tubuh Papua juga berkaitan erat dengan martabat dan identitas. Goresan pada tubuh dan pakaian adat adalah bentuk kebanggaan kolektif. Ia menandai keberadaan seseorang dalam komunitas dan sejarah sosialnya. Mengabaikan makna ini sama artinya dengan mengikis fondasi identitas yang selama ini menopang keberlanjutan masyarakat adat Papua.
Dalam kerangka pembangunan berkelanjutan, kebudayaan semestinya dipahami sebagai pilar yang setara dengan ekonomi dan lingkungan. Pembangunan yang mengabaikan budaya berisiko menciptakan keterputusan identitas dan kehilangan arah. Seni lukis tubuh Papua mengingatkan bahwa keberlanjutan tidak hanya soal menjaga alam, tetapi juga menjaga ingatan kolektif dan nilai-nilai yang membentuk suatu masyarakat.
Pada akhirnya, seni lukis tubuh Papua menegaskan bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan praktik hidup yang terus berlangsung. Goresan pada tubuh dan pakaian adat adalah cara masyarakat Papua menautkan diri dengan sejarah, komunitas, dan alam sekitarnya. Ketika seni ini dilepaskan dari konteksnya, yang hilang bukan hanya keindahan visual, tetapi juga makna yang menghidupkannya.
Merawat seni lukis tubuh Papua, karena itu, bukan semata soal pelestarian bentuk, melainkan penjagaan terhadap makna. Tanggung jawab ini tidak hanya berada di tangan masyarakat adat, tetapi juga negara dan publik yang menikmati ekspresi budaya tersebut. Di tengah perubahan yang kian cepat, menjaga seni sebagai bahasa budaya berarti memastikan bahwa modernitas tidak memutus ingatan, dan bahwa kebudayaan tetap memiliki ruang untuk hidup, bertumbuh, dan berbicara dengan caranya sendiri.