Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Di sudut-sudut kafe hingga ruang tunggu bandara, pemandangan perangkat kelas atas dengan modul kamera mutakhir dan layar beresolusi tinggi bukanlah hal langka. Namun, ironi besar terselip di balik kemilau layar tersebut.
Pada sebagian besar masyarakat, smartphone seharga belasan hingga puluhan juta rupiah hanya menjadi mesin pengirim pesan instan atau sekadar alat untuk menggulir lini masa media sosial tanpa henti. Itulah kesenjangan yang kontras antara kapabilitas perangkat dengan utilitas penggunanya.

HP Mahal vs Literasi Dangkal di Indonesia
Dominasi WhatsApp dan Matinya Eksplorasi. WhatsApp telah menjadi "sistem operasi" pada sebagian besar orang Indonesia. Begitu kuatnya dominasi platform WhatsApp, membuat fungsi pintar lainnya terabaikan. Smartphone yang memiliki kemampuan komputasi setara komputer kecil justru jarang digunakan untuk mengakses
Meskipun perangkat di tangan mampu melakukan penelusuran data dalam hitungan detik, budaya cek fakta masih sangat rendah. Smartphone mahal seharusnya menjadi tameng terhadap hoaks, namun sering menjadi corong penyebaran berita palsu karena penggunanya enggan memanfaatkan mesin pencari untuk memvalidasi informasi.

Konten sebagai Pajangan, Bukan Karya. Banyak yang mengejar spesifikasi kamera terbaik hanya untuk estetika gaya hidup. Sensor kamera canggih yang mampu merekam video berkualitas sinematik atau mengambil foto makro yang detail jarang digunakan untuk menciptakan konten berkualitas dan mengedukasi atau menginspirasi. Smartphone lebih diposisikan sebagai simbol status sosial (pajangan) daripada alat produksi kreatif yang mampu menghasilkan narasi sosial kuat.

Perlu Pergeseran Paradigma
Memiliki smartphone mahal adalah hak setiap individu, namun membiarkan potensi teknologi tersebut menguap begitu saja adalah kerugian intelektual, bahkan kemiskinan kognisi.
Transformasi digital yang sesungguhnya bukan terjadi saat semua orang memegang HP pintar, tapi penggunanya. Menggunakan perangkat untuk literasi mendalam (membaca buku dan opini berkualitas). Menjadikan smartphone sebagai pusat verifikasi informasi. Beralih dari sekadar konsumen konten yang pasif menjadi kreator konten yang berbobot.
Ingatlah "Teknologi hanya menjadi 'pintar' jika berada di tangan orang yang mau terus belajar. Tanpa itu, smartphone tercanggih sekalipun hanyalah pajangan elektronik."
Opa Jappy | Indonesia Hari Ini
