Guru di Kota Bekasi yang tertarik menulis di Kompasiana. Penulis reflektif, dan pengamat kehidupan sosial sehari-hari. Menulis bagi saya adalah cara merekam jejak, menjaga kenangan, sekaligus mengolah ulang pengalaman menjadi gagasan yang lebih jernih. Saya tumbuh dari kisah pasar tradisional, sawah, dan gunung yang menjadi latar masa kecil di Cisalak-Subang. Kini, keseharian sebagai guru membuat saya dekat dengan cerita murid, dunia pendidikan, serta perubahan sosial yang terjadi di sekitar kita. Di Kompasiana, saya banyak menulis tentang: pendidikan yang manusiawi, dinamika sosial budaya, kenangan kecil yang membentuk cara pandang, serta fenomena keseharian seperti kafe, pasar, hujan, dan keluarga. Saya punya prinsip tulisan yang baik bukan hanya menyampaikan pendapat, tetapi juga mengajak pembaca berhenti sejenak untuk merenung, tersenyum, atau tergerak untuk berubah.

Menjelang malam Tahun Baru di jalur selatan Cileunyi-Cicalengka, salah satu ruas jalan yang hampir selalu padat saat musim liburan. Dari atas JPO di depan Yayasan Al-Ma'soem, arus kendaraan terlihat melambat ke dua arah: menuju Garut, Tasikmalaya dan sebaliknya. Kepadatan lalu lintas menjadi pemandangan yang berulang setiap akhir tahun.
Di balik deru kendaraan, aktivitas UMKM pinggir jalan ternyata bergerak. Pedagang tahu, peuyeum, dan ubi Cilembu memanfaatkan momentum arus libur dan menaruh harapan besar ketika arus balik. Bagi mereka, jalan yang melambat membuka ruang ekonomi baru.
Melalui suara asli jalan dan potongan wawancara singkat, video ini merekam optimisme para pedagang yang menjadikan ruang publik sebagai lahan usaha dengan berjualan. Hadir apa adanya lewat kerja keras, wajan panas, dan kendaraan yang berhenti sejenak.
Video ini adalah catatan singkat tentang bagaimana jalur perjalanan yang menjadi ruang hidup. Ketika pengendara melihat macet sebagai tantangan, para pedagang melihatnya sebagai peluang.