agus hendrawan
agus hendrawan Guru

Guru di Kota Bekasi yang tertarik menulis di Kompasiana. Penulis reflektif, dan pengamat kehidupan sosial sehari-hari. Menulis bagi saya adalah cara merekam jejak, menjaga kenangan, sekaligus mengolah ulang pengalaman menjadi gagasan yang lebih jernih. Saya tumbuh dari kisah pasar tradisional, sawah, dan gunung yang menjadi latar masa kecil di Cisalak-Subang. Kini, keseharian sebagai guru membuat saya dekat dengan cerita murid, dunia pendidikan, serta perubahan sosial yang terjadi di sekitar kita. Di Kompasiana, saya banyak menulis tentang: pendidikan yang manusiawi, dinamika sosial budaya, kenangan kecil yang membentuk cara pandang, serta fenomena keseharian seperti kafe, pasar, hujan, dan keluarga. Saya punya prinsip tulisan yang baik bukan hanya menyampaikan pendapat, tetapi juga mengajak pembaca berhenti sejenak untuk merenung, tersenyum, atau tergerak untuk berubah.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Dentum Dogdog Sahur dan Pelajaran Toleransi dari Gang Kecil di Cileunyi

19 Maret 2026   09:07 Diperbarui: 19 Maret 2026   09:07 77 7 1

Hanya saja, semangat yang baik tetap perlu ditemani kepekaan.

Tradisi membangunkan sahur tetap boleh dilakukan, tetapi penggunaan pengeras suara sebaiknya secukupnya dan harus mempertimbangkan lingkungan sekitar, terutama jika berada di kawasan padat atau banyak warga non-Muslim. 

Artinya, persoalannya bukan pada ada atau tidak adanya tradisi keliling sahur.

Persoalannya ada pada cara.

Kalau suaranya wajar, waktunya tepat, rutenya dipahami warga, dan tidak berubah menjadi kebisingan yang berlebihan, tradisi ini masih bisa hadir sebagai warna Ramadan. Ia tetap hidup, tetapi tidak memaksa semua orang harus menikmatinya dengan cara yang sama.

Saya justru merasa, video ini menyimpan pelajaran kecil yang penting.

Ramadan bukan hanya soal semaraknya suasana, tetapi juga soal kemampuan menahan diri. Bahkan dalam tradisi yang niatnya baik, tetap ada ruang untuk mengukur volume, membaca lingkungan, dan menghormati orang lain yang hidup berdampingan.

Belasan remaja yang saya rekam itu telah menghidupkan kampung.

Tinggal satu hal yang perlu terus dijaga bersama: agar bunyi yang mereka bawa tetap menjadi penanda sahur, bukan sumber yang memicu salah paham.

Mungkin di situlah tradisi menjadi lebih dewasa.

Ia tetap berbunyi, tetapi tahu kapan harus pelan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2