Guru di Kota Bekasi yang tertarik menulis di Kompasiana. Penulis reflektif, dan pengamat kehidupan sosial sehari-hari. Menulis bagi saya adalah cara merekam jejak, menjaga kenangan, sekaligus mengolah ulang pengalaman menjadi gagasan yang lebih jernih. Saya tumbuh dari kisah pasar tradisional, sawah, dan gunung yang menjadi latar masa kecil di Cisalak-Subang. Kini, keseharian sebagai guru membuat saya dekat dengan cerita murid, dunia pendidikan, serta perubahan sosial yang terjadi di sekitar kita. Di Kompasiana, saya banyak menulis tentang: pendidikan yang manusiawi, dinamika sosial budaya, kenangan kecil yang membentuk cara pandang, serta fenomena keseharian seperti kafe, pasar, hujan, dan keluarga. Saya punya prinsip tulisan yang baik bukan hanya menyampaikan pendapat, tetapi juga mengajak pembaca berhenti sejenak untuk merenung, tersenyum, atau tergerak untuk berubah.

Sekitar pukul 02.30 WIB, saya mendengar dentum dogdog dari kejauhan di kampung istri saya, Cileunyi, Bandung. Suaranya makin lama makin dekat, lalu terdengar jelas di depan rumah.
Saya pun keluar untuk merekam.
Di depan saya, belasan remaja berjalan menyusuri gang sambil memukul dogdog. Di belakangnya, ada pengeras suara di atas roda yang memutar gamelan bahkan lagu marawis. Suasana dini hari yang semula lengang, mendadak berubah menjadi hidup.
Video singkat itu awalnya saya anggap sebagai catatan kecil Ramadan.
Namun setelah dipikir-pikir, ada pertanyaan yang diam-diam ikut berjalan bersama rombongan itu. Apakah semua orang selalu senang mendengar bunyi seperti ini di jam orang masih tidur.
Tradisi membangunkan sahur memang akrab di banyak kampung. Di beberapa tempat, suara bedug, kentongan, dogdog, atau toa sudah lama menjadi penanda waktu makan sahur. Bagi banyak warga, bunyi itu justru terasa sebagai bagian dari suasana Ramadan.
Tetapi kehidupan di beberapa kota hari ini tidak selalu sesederhana dulu.
Ada warga yang sedang sakit. Ada yang bekerja malam dan baru tidur menjelang dini hari. Ada bayi yang mudah terbangun. Ada orang lanjut usia yang butuh istirahat lebih tenang. Ada pula tetangga non-Muslim yang tentu tidak menjalankan sahur, tetapi tetap hidup berdampingan dalam ruang yang sama.
Di titik itulah, tradisi bertemu dengan toleransi.
Saya tidak sedang menolak apa yang saya rekam. Sebaliknya, saya justru melihat ada energi yang bagus dari anak-anak muda itu. Mereka masih mau bergerak bersama, masih mau menjaga suasana Ramadan, dan masih mau merawat bunyi-bunyian kampung yang makin jarang terdengar.
Hanya saja, semangat yang baik tetap perlu ditemani kepekaan.
Tradisi membangunkan sahur tetap boleh dilakukan, tetapi penggunaan pengeras suara sebaiknya secukupnya dan harus mempertimbangkan lingkungan sekitar, terutama jika berada di kawasan padat atau banyak warga non-Muslim.
Artinya, persoalannya bukan pada ada atau tidak adanya tradisi keliling sahur.
Persoalannya ada pada cara.
Kalau suaranya wajar, waktunya tepat, rutenya dipahami warga, dan tidak berubah menjadi kebisingan yang berlebihan, tradisi ini masih bisa hadir sebagai warna Ramadan. Ia tetap hidup, tetapi tidak memaksa semua orang harus menikmatinya dengan cara yang sama.
Saya justru merasa, video ini menyimpan pelajaran kecil yang penting.
Ramadan bukan hanya soal semaraknya suasana, tetapi juga soal kemampuan menahan diri. Bahkan dalam tradisi yang niatnya baik, tetap ada ruang untuk mengukur volume, membaca lingkungan, dan menghormati orang lain yang hidup berdampingan.
Belasan remaja yang saya rekam itu telah menghidupkan kampung.
Tinggal satu hal yang perlu terus dijaga bersama: agar bunyi yang mereka bawa tetap menjadi penanda sahur, bukan sumber yang memicu salah paham.
Mungkin di situlah tradisi menjadi lebih dewasa.
Ia tetap berbunyi, tetapi tahu kapan harus pelan.