agus hendrawan
agus hendrawan Guru

Guru di Kota Bekasi yang tertarik menulis di Kompasiana. Penulis reflektif, dan pengamat kehidupan sosial sehari-hari. Menulis bagi saya adalah cara merekam jejak, menjaga kenangan, sekaligus mengolah ulang pengalaman menjadi gagasan yang lebih jernih. Saya tumbuh dari kisah pasar tradisional, sawah, dan gunung yang menjadi latar masa kecil di Cisalak-Subang. Kini, keseharian sebagai guru membuat saya dekat dengan cerita murid, dunia pendidikan, serta perubahan sosial yang terjadi di sekitar kita. Di Kompasiana, saya banyak menulis tentang: pendidikan yang manusiawi, dinamika sosial budaya, kenangan kecil yang membentuk cara pandang, serta fenomena keseharian seperti kafe, pasar, hujan, dan keluarga. Saya punya prinsip tulisan yang baik bukan hanya menyampaikan pendapat, tetapi juga mengajak pembaca berhenti sejenak untuk merenung, tersenyum, atau tergerak untuk berubah.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Dentum Dogdog Sahur dan Pelajaran Toleransi dari Gang Kecil di Cileunyi

19 Maret 2026   09:07 Diperbarui: 19 Maret 2026   09:07 57 4 1

Tradisi membangunkan sahur menghidupkan suasana Ramadan, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga kepekaan terhadap ruang tinggal bersama. (Dokpri)
Tradisi membangunkan sahur menghidupkan suasana Ramadan, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga kepekaan terhadap ruang tinggal bersama. (Dokpri)

Sekitar pukul 02.30 WIB, saya mendengar dentum dogdog dari kejauhan di kampung istri saya, Cileunyi, Bandung. Suaranya makin lama makin dekat, lalu terdengar jelas di depan rumah.

Saya pun keluar untuk merekam.

Di depan saya, belasan remaja berjalan menyusuri gang sambil memukul dogdog. Di belakangnya, ada pengeras suara di atas roda yang memutar gamelan bahkan lagu marawis. Suasana dini hari yang semula lengang, mendadak berubah menjadi hidup.

Video singkat itu awalnya saya anggap sebagai catatan kecil Ramadan.

Namun setelah dipikir-pikir, ada pertanyaan yang diam-diam ikut berjalan bersama rombongan itu. Apakah semua orang selalu senang mendengar bunyi seperti ini di jam orang masih tidur.

Tradisi membangunkan sahur memang akrab di banyak kampung. Di beberapa tempat, suara bedug, kentongan, dogdog, atau toa sudah lama menjadi penanda waktu makan sahur. Bagi banyak warga, bunyi itu justru terasa sebagai bagian dari suasana Ramadan.

Tetapi kehidupan di beberapa kota hari ini tidak selalu sesederhana dulu.

Ada warga yang sedang sakit. Ada yang bekerja malam dan baru tidur menjelang dini hari. Ada bayi yang mudah terbangun. Ada orang lanjut usia yang butuh istirahat lebih tenang. Ada pula tetangga non-Muslim yang tentu tidak menjalankan sahur, tetapi tetap hidup berdampingan dalam ruang yang sama.

Di titik itulah, tradisi bertemu dengan toleransi.

Saya tidak sedang menolak apa yang saya rekam. Sebaliknya, saya justru melihat ada energi yang bagus dari anak-anak muda itu. Mereka masih mau bergerak bersama, masih mau menjaga suasana Ramadan, dan masih mau merawat bunyi-bunyian kampung yang makin jarang terdengar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2