Video Artikel Utama

Tari Bambangan Cakil di Bangsal Sri Menganti, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

6 Mei 2024   15:07 Diperbarui: 6 Mei 2024   17:52 671 17 8


Buta Cakil merupakan sosok raksasa dalam dunia pewayangan yang selalu menggoda para kesatria muda yang sedang bertapa. 

Kesatria yang dimaksud di sini lebih mengarah pada diri Raden Arjuna.

Perang antara Buta Cakil lawan Raden Arjuna disebut perang kembang karena hanya merupakan kisah carangan atau kembang sekedar memperindah pertunjukan wayang. 

Tari Bambangan Cakil. (Dok Mbah Ukik)
Tari Bambangan Cakil. (Dok Mbah Ukik)

Dalam wayang kulit keindahan tampak ketrampilan dalang dalam memainkan wayang tokoh Buta Cakil.

Dalam wayang wong keindahan tampak pada penari yang memerankan Buta Cakil yang bergerak lincah atraktif dan harus menguasai seluruh panggung pementasan.

Keatraktifan Buta Cakil menggambarkan nafsu serakah menggelora dari dalam diri yang harus dikendalikan, dilawan, dan dikalahkan oleh kesatria itu sendiri.

Pada akhir perang kembang Buta Cakil mati terbunuh oleh keris senjatanya sendiri ketika akan membunuh kesatria yang digodanya.

Nafsu dan godaan para kesatria bukan hanya pada tokoh Buta Cakil saja tetapi juga raksasa-raksasa yang menghadang saat melaksanakan tugas.

Dalam pertemuan dan perang kembang Buta Cakil dan para raksasa melawan kesatria muda (Jawa: Bambang) jarang terjadi dialog. Kecuali ocehan Buta Cakil untuk menggoda para kesatria.

Awal 2023, di Bangsal Sri Menganti Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ditampilkan fragmen Tari Bambangan Buta Cakil.

Ini merupakan pertunjukan langka atau setidaknya sudah jarang ada lagi mengingat pertunjukan wayang wong kurang diminati lagi.