Jika hujan deras di lereng dan puncak bagian selatan Semeru mengguyur lebih dari dua jam maka air hujan akan menerjang endapan lahar dingin di bawah Jembatan Gladak Perak atau Besuk Kobo'an. Lembah pun menjadi curam lagi dengan kedalaman sekitar 30m.
Peristiwa inilah yang menjadi daya tarik juga bagi pengunjung walau sangat berbahaya bagi keselamatan. Lahar dingin bisa saja meluap tak terduga yang bisa saja menerjang dan membuat jatuhnya korban. Ditambah lagi Gunung Semeru masih saja erupsi selama lima tahun terakhir ini.
Selain itu, tebing-tebing sebelah utara dengan kemiringan 30 - 80 derajat sangat rawan longsor dan sering terjadi baik pada musim hujan maupun kemarau.
Longsoran bukan hanya berupa tanah dan bebatuan ukuran sedang tetapi juga seukuran diameter 1,5 - 3m. Selain itu juga pepohonan yang roboh karena tanah tempat berpijak longsor.

Menghindari adanya korban sia-sia, Kementerian Pekerjaan Umum membangun talud-talud setinggi 6m pada titik-titik yang dianggap rawan longsor.
Talud-talud ini bukan dibangun pada sisi utara tetapi juga di sisi selatan atau di bibir jurang dan lembah terutama sekitar 200-300m sebelum dan sesudah jembatan Jembatan Besuk Kobo'an. Ketinggian talud ini hanya 1,2 m.

Pembangunan talud ini bukan untuk mencegah longsor tetapi lebih berarti agar tidak ada kendaraan apapun yang parkir dan penumpangnya melihat keindahan alam sekitarnya. Bahkan pembangunan talud ini juga menutup akses pintu masuk ke warung-warung dan kafe sederhana yang jumlahnya puluhan.
Pada akhirnya tak ada lagi pengunjung atau wisatawan di sekitar Jembatan Besuk Kobo'an atau Gladak Perak. Berhenti di jembatan pun sangat berbahaya dan mengganggu kelancaran lalu lintas.

Infrastruktur yang dibangun pemerintah bukan hanya jembatan dan hunian tetap atau huntap bagi masyarakat yang harus direlokasi karena desanya hilang tetapi juga Jalan Nasional III.
Jalan Nasional III kini lebarnya sekitar 8m dan lebih tinggi 0,5m dari jalan sebelum direkonstruksi.
