
Dusun Kamar Kajang merupakan bagian dari Desa Sumber Wuluh, Kecamatan Candi Puro Kabupaten Lumajang. Dusun ini berada di lembah sungai Besuk Kobo'an yang merupakan aliran lahar dari Gunung Semeru.
Pada peristiwa erupsi Gunung Semeru 4 Desember 2021 dusun ini luluh lantak diterjang lahar dingin dengan menelan 51 korban meninggal dunia. Sebagian besar korban adalah petani dan pencari pasir di lembah tersebut.

Dampak dari erupsi tersebut selain menghancurkan beberapa desa serta infrastrukturnya juga menghancurkan dua Jembatan Gladak Perak. Satu jembatan besi peninggalan kolonial Belanda dan satu jembatan yang baru dibangun pemerintah pada awal 2000.
Kesigapan pemerintah menanggulangi bencana dan mempercepat gerak ekonomi maka hanya dalam dua bulan sudah dibangun jembatan gantung khusus untuk roda dua dan pejalan kaki.
Jembatan gantung searah ini dilalui pemakai jalan secara bergantian dengan pengatur lalu lintas dari petugas pembangunan jembatan.
Kurang lebih enam bulan kemudian, jembatan permanen sudah dibangun kembali. Gerak dan perputaran perekonomian masyarakat sekitar antara Kabupaten Lumajang dan Malang kembali normal.
Jembatan gantung ini sekarang sudah dibongkar karena tidak berfungsi lagi dan sering dijadikan tempat wisata dadakan yang sangat berbahaya.

Para pedagang dari Lumajang dan Malang atau sebaliknya tidak lagi harus melintasi hutan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru sepanjang 30 km di Senduro dan Ranu Pani hingga Ngadas Kabupaten Malang. Seperti yang penulis lakukan jika harus kulakan kambing etawa di Lumajang.
Atau lewat jalur utara melalui Probolinggo dan Pasuruan sejauh 120 km yang artinya 50 km lebih jauh.

Jembatan baru yang telah berumur tiga tahun ini menjadi daya tarik tersendiri sebagai tempat wisata unik bagi sebagian masyarakat di luar Kecamatan Candi Puro, Lumajang dan Dampit, Kabupaten Malang.
Para pengunjung tertarik melihat kedalaman lembah sungai Besuk Kobo'an yang sangat curam dan keindahan bentangan lembah yang terus berubah sesuai musimnya. Saat musim hujan apalagi terjadi erupsi Semeru lembah tampak pekat penuh lahar dingin dan sedikit semak perdu. Bahkan kedalaman lembah dari jembatan hanya tinggal sekitar 5-6 m karena lembah penuh lahar dingin, pasir, dan bebatuan.

Jika hujan deras di lereng dan puncak bagian selatan Semeru mengguyur lebih dari dua jam maka air hujan akan menerjang endapan lahar dingin di bawah Jembatan Gladak Perak atau Besuk Kobo'an. Lembah pun menjadi curam lagi dengan kedalaman sekitar 30m.
Peristiwa inilah yang menjadi daya tarik juga bagi pengunjung walau sangat berbahaya bagi keselamatan. Lahar dingin bisa saja meluap tak terduga yang bisa saja menerjang dan membuat jatuhnya korban. Ditambah lagi Gunung Semeru masih saja erupsi selama lima tahun terakhir ini.
Selain itu, tebing-tebing sebelah utara dengan kemiringan 30 - 80 derajat sangat rawan longsor dan sering terjadi baik pada musim hujan maupun kemarau.
Longsoran bukan hanya berupa tanah dan bebatuan ukuran sedang tetapi juga seukuran diameter 1,5 - 3m. Selain itu juga pepohonan yang roboh karena tanah tempat berpijak longsor.

Menghindari adanya korban sia-sia, Kementerian Pekerjaan Umum membangun talud-talud setinggi 6m pada titik-titik yang dianggap rawan longsor.
Talud-talud ini bukan dibangun pada sisi utara tetapi juga di sisi selatan atau di bibir jurang dan lembah terutama sekitar 200-300m sebelum dan sesudah jembatan Jembatan Besuk Kobo'an. Ketinggian talud ini hanya 1,2 m.

Pembangunan talud ini bukan untuk mencegah longsor tetapi lebih berarti agar tidak ada kendaraan apapun yang parkir dan penumpangnya melihat keindahan alam sekitarnya. Bahkan pembangunan talud ini juga menutup akses pintu masuk ke warung-warung dan kafe sederhana yang jumlahnya puluhan.
Pada akhirnya tak ada lagi pengunjung atau wisatawan di sekitar Jembatan Besuk Kobo'an atau Gladak Perak. Berhenti di jembatan pun sangat berbahaya dan mengganggu kelancaran lalu lintas.

Infrastruktur yang dibangun pemerintah bukan hanya jembatan dan hunian tetap atau huntap bagi masyarakat yang harus direlokasi karena desanya hilang tetapi juga Jalan Nasional III.
Jalan Nasional III kini lebarnya sekitar 8m dan lebih tinggi 0,5m dari jalan sebelum direkonstruksi.
