Film civil war merupakan film perang berlatar masa depan yang menggambarkan kondisi Amerika Serikat yang terpecah akibat konflik saudara. Berbeda dari film perang pada umumnya, film ini tidak berfokus pada tentara, melainkan pada para jurnalis dan fotografer yang meliput kejadian di tengah kekacauan. Tokoh utama dalam film ini antara lain Lee Smith sebagai fotografer perang berpengalaman, Joel sebagai jurnalis ambisius, Jessie Cullen sebagai fotografer muda, serta Sammy sebagai jurnalis senior. Mereka melakukan perjalanan berbahaya menuju Washington DC untuk mewawancarai presiden di tengah situasi negara yang hampir runtuh.
Film civil war menceritakan tentang kondisi sebuah negara yang sedang hancur karena perang saudara, di mana kekuasaan pemerintah mulai runtuh dan terjadi konflik besar antar kelompok. Namun, inti ceritanya bukan hanya tentang perang itu sendiri, melainkan tentang perjalanan para jurnalis dan fotografer (press) yang berusaha merekam dan menyampaikan kenyataan yang terjadi di lapangan. Film ini ingin menunjukkan bagaimana jurnalis menjadi saksi langsung dari peristiwa besar dan berbahaya, serta bagaimana mereka tetap bekerja di tengah situasi yang penuh risiko.
Alur cerita dalam film ini menggambarkan perjalanan penuh risiko yang harus dilalui para jurnalis saat meliput konflik. Mereka melewati berbagai wilayah berbahaya, menyaksikan langsung kekerasan, kematian, serta penderitaan masyarakat sipil. Dalam proses tersebut, karakter Jessie mengalami perkembangan yang cukup signifikan, dari seorang pemula yang takut menghadapi situasi berbahaya menjadi fotografer yang mulai terbiasa dengan kerasnya realitas di lapangan. Perubahan ini menunjukkan bagaimana lingkungan kerja dapat memengaruhi mental dan cara pandang seorang fotografer jurnalistik.
Dari sisi fotografi jurnalistik, film ini memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai dilema yang sering dihadapi oleh fotografer di lapangan, yaitu antara tetap mengambil gambar sebagai bentuk dokumentasi atau membantu korban yang sedang mengalami kesulitan. Tokoh Lee misalnya, digambarkan tetap profesional dengan terus memotret meskipun berada dalam situasi yang penuh tekanan emosional. Hal ini menunjukkan bahwa dalam dunia jurnalistik, objektivitas sering kali menjadi prioritas, meskipun bertentangan dengan sisi kemanusiaan. Bahkan ketika para jurnalis (press) ikut andil langsung mengambil foto dan dokumentasi di tengah-tengah perang, situasi tersebut menjadi sangat berbahaya karena mereka berada di garis depan konflik.
Salah satu bagian atau scene ini menjadi hal yang paling saya ingat dan juga favorit, karena benar-benar memperlihatkan bagaimana seorang jurnalis mempertaruhkan nyawanya demi mendapatkan gambar yang nyata dan jujur tentang perang. Kondisi ini menunjukkan bahwa pekerjaan seorang jurnalis, khususnya fotografer perang, benar-benar penuh risiko dan pengorbanan demi menyampaikan kebenaran kepada publik.
