Erenzh Pulalo
Erenzh Pulalo Guru

Memanfaatkan Waktu Untuk Menulis

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Video Tarian Adat (Tate) Masyarakat Pasir Putih Nahaya, Kabupaten Mappi

1 Juni 2021   12:30 Diperbarui: 1 Juni 2021   13:00 764 2 1

Yofa Online. Pasir Putih Nahaya merupakan salah satu dusun terkecil yang terdapat di distrik Passue Kabupaten Mappi, Papua

Jarak perjalanan dari Kepi (pusak kota) ke dusun ini jika menggunakan ketinting akan memakan waktu 6 - 7 jam, tetapi jika menggunakan speed memakan waktu 3 jam. Jarak yang jauh karena harus mengikuti sungai Oba dan Sungai Passue.

Dusun ini merupakan bagian dari kampung Menya, dan termasuk RT III. Namun masyarakat memisahkan diri dan membuat dusun baru dengan memberikan nama Pasir Putih Nahaya.

Nama Pasir Putih Nahaya diberikan karena keadaan tanah yang berpasir putih sehingga dinamakan "Pasir Putih" sedangkan tambahan Nahaya karena ada sungai kecil yang mengalir dengan melingkari dusun ini dengan bermuara ke sungai Passue sehingga digabungkan oleh masyarakat setempat dan diberikan nama "Pasir Putih Nahaya".

Sesuai sejarah nya, dusun ini dahulu merupakan hutan, namun nabo Gabriel Pama (Nabo bahasa Awyo yang artinya bapak) yang merupakan masyarakat asli kampung Menya datang dengan alasan membuka dusun gaharu, namun yang akhirnya dibuat dusun dan menjadi permukiman masyarakat.

Kebudayaan disini masih sangat kental dan tidak terluntur sedikit pun. Salah satunya tari - tarian atau dalam bahasanya (bahasa Awyo) disebut Tate. Tate hanya dilakukan untuk merayakan sesuatu ucapan syukur, seperti menyambut tahun baru, menyambut para petinggi, peresmian gereja / sekolah, dan sebagainya.

Orang yang Tate tidak sembarang, harus menggunakan busana sebagai perlengkapan dan mempunyai warna tersendiri. Seperti dari kepala ada topi yang digabungkan dengan bulu - bulu kasuari atau cenderawasih dan ditambah sedikit ukiran dan tempelan manik - manik.

Ada juga cawat yang merupakan rok atau celana tradisional yang terbuat dari kulit gaharu yang sudah dikeringkan hingga berwarna kecoklatan. Ada tombak yang merupakan alat perang bagi kaum pria sehinggasaat Tate menunjukan bagaimana usaha kerja keras nenek moyangnya dalam merebut wilayah ini. Dan dalam Tate tombak hanya dipegang oleh pria (Nabo), sedangkan wanita (wane) memegang dahan - dahan pohon.

Ada satu lagi yang penting ialah, saluwaku. Saluwaku merupakan alat pelindung atau perisai bagi para pria. Dahulu saat terjadi peperangan para pria mengunakan saluwaku sebagai pelindung diri, hingga saat ini para pria selalu pakai saat Tate untuk menghormati para leluhurnya.